^_^Intro:
Hmm, sebelum kugoreskan tinta hitam di atas lembaran kertas putih bergaris ini...
Ups, maksud sy sebelum sy menulis sebuah kisah bodoh, namun
menginspirasi stiap insan yang terlahir di muka bumi ini...(hahaha lebay
gila) sy memohon maaf yang setulus2nya ats segala sikap,perkataan, dan
prasangka buruk yang meninggalkan bekas noda di hati anti dan antum
sekalian, berhubung masih suasana lebaran nich...
Sebenarnya ane bukan orang yg pandai berkata2, bukan penulis yg
pandai merangkai cerita dan membangun imajinasi para pembacanya, bukan
juga Andrea Hirata..hehe karena memang sy hanyalah Sofia Paramita,
manusia biasa yang masih simpang siur imannya, tp takut masuk neraka
bila ajal memanggilnya..hehehe yah samalah dengan manusia2 lain..
Sebenarnya takut sekali dengan azab dan murka-Nya tp tak henti-hentinya menabung dosa...
Ampuni kami ya Rabb..
ini hanyalah sebuah kisah yang mengungkapkan tentang 'IMAN'..bila
bicara mengenai hal tersebut di atas memang berat, karena menyangkut
tentang keyakinan..
Namun kisah yang ini bukan menceritakan tentang keyakinan itu sendiri.
Tapi tentang komitmen jiwa yang masih sulit sekali dalam menjalankannya...
Langsung saja..
Ini hanyalah buah keisengan, bukan buah kreativitasku,karena sesungguhnya sy bukan orang yang kreatif..hehe
(ini bukan merendah,tp fakta)..
Puasa syawal..ya ya ya aku harus bisa seperti nenek. Yap kumantapkan
dalam hati. Tahun ini aku tak ingin gagal lagi. Biarlah apa pun atau
siapa pun yang menghalangiku untuk berpuasa seperti nenek tak kan
kugubris seperti tahun yang sebelum2nya.
Kini aku telah dewasa, dulu kan aku masih agak keanak2an dan memang
aku juga kurang yakin untuk menjalaninya, selain itu masih berpikir
belum waktunya untuk melakukan puasa itu. Aku kan masih ingin makan
kastengelnya Budhe, terus opor bikinan Ibuk, oya gak lupa juga tuh
sirup-sirup yg akan terasa segar diminum saat halal bihalal di tempat
sodara n tetangga...
Dan seperti biasa Ibukku selalu bilang ''Itu tuh puasanya orang yang
udah lanjut usia, yang udah gak berhalangan, dan gak sowan kemana2,
jadi godaannya ga begitu berat. Kamu kan masih harus muter ke rumah
Budhe, Pakdhe, Om, tetangga.. Apa kamu gak tergoda kalau ada setoples
kastengel di depan mata disiakan saja?? Tapi ya terserah kamu sih, bagus
juga kalau kamu bisa menjalaninya. Hebat deh kalau bisa'' ujar simbokku
kalau aku minta pendapat tentang puasa syawal,
dan selalu membuatku galau..wkwk
*Lebaran hari 1...
As always.. Aku dan keluarga ke rumah nenek (my inspirator) ..
Shalat Idul Fitri di mushola depan rumah beliau seperti tahun2
sebelumnya.. Tapi tahun ini agak beda sih, tahu kenapa?? Soalnya
biasanya aku sekeluarga telat dateng, pernah juga tuh sampe gak shalat
gara-gara pas udah nyampe, eh ternyata udah selesei shalatnya..
Ouch..ouch..ouch.. Kecewa.. Dan menyesal...
Hehe
*sungkeman...
Nah ini acara yang ditunggu, sungkem menyungkem sama Nenek, Ibuk,
Bapak(rekayasa,soalnya wktu itu Bapak lg ada acara urgen), dan semua
keluarga dari Ibuk..
Tak ketinggalan juga lembaran-lembaran rupiah masuk ke kantongku..hehe(just for addition)..
Lalu ke makam Kakek, terus ke rumah kakaknya nenek, terus ke rumah,
rumah, rumah lainnya yg sering lupa kalau habis dijelasin urut2an
hubungan persaudaraannya, dalam hati hanya berkata yang penting tahu lah
orang itu sodaraku,hehe maklum anak muda...
And finally I went home, sesampainya di rumah aku duduk di dekat
Ibuk yang sedang merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur yang
tingkat keempukannya lebih empuk dari kasur yang ada di kamar
kosku,wehehe(agak gak penting sebenarnya)
'Buk, kalau puasa syawal harus selama itu ya?
Gak boleh sehari puasa sehari nggak?
Kalau nggak ya, pas puasa pengen nyicipin kastengel budhe
secuuuiiluuil aja, terus puasanya dilanjutin lagi boleh ga ya?(yg ini
gak aku tanyain sih,cuma dalam hati aja,hehe) Aku besok mau puasa ya
kayak nenek.' tanyaku, dan sedikit menanti motivasi dari Ibuk untuk
semakin yakin dengan puasa syawal yang akan kujalani.
'Iya, afdolnya begitu, puasnya mulai lebaran hari kedua.
Yakin nih mau puasa? Besok kan kumpul keluarga besar dari Bapak di
rumah Budhe, disana pasti dimasakin enak, kastengelnya enak, habis itu
zuhur sodara2 pada ke rumah kita,
Ibuk juga masak opor kesukaanmu, ada sayap ayam kampung kesukaanmu,
besok halal bihalalnya sampe sore, kamu kuat gak?' jawab Ibuk.. Jawaban
ini bagai teka teki yang membuat imanku agak tergoyah, mau menganggap
ini sebagai bentuk motivasi untuk tetap berpuasa walau godaannya seberat
itu, atau......
Ini akan jadi alasan untuk mentolerir ketidakjadian puasaku lagi?
Ya Allah beri petunjuk-Mu,
aku ingin sekali bisa puasa syawal, memecahkan keraguan Ibuk tentang
iman seorang remaja yang diremehkan, ya meski Ibukku tidak sejahat itu
hingga punya pikiran seburuk itu, ini hanya fiktif belaka kok, diingat
ya !..
Kali ini aku sangat yakin aku bisa puasa syawal,
aku pasti bisa tahan bila melihat stoples kastengel, nanti maghrib kan aku juga bisa memakannya.
Opor ayam dengan sayap ayam kampung, gampang lah minta Ibuk buat menyisihkan dan nyimpenin buat aku pas buka kan juga bisa.
Ya, malam hari aku udah niatin buat puasa..
Hmm,malam ini aku tepar teramat gasik,hingga aku lupa mengatur alarm sebelum tidur..
Alhasil.....
*lebaran hari kedua...
Saat ku terbangun dari mimpi yang indah dalam lelapnya tidur karena
kelelahan halal bihalal hari pertama, kusadari aku terbangun pukul
setengah enam,,(nggaya bgt,shalat subuh masih telat mau puasa
syawal,hihi)
entah shalat subuhku diterima atau tidak, aku pasrahkan pada yang Mahakuasa..
Setelah shalat aku ke kamar mandi, sebelum sampai, ada Ibu lagi masak opor..hmmm yummy bgt dah aroma masakan simbok...
'Buk, sayapnya disisihkan buat aku buka puasa ya?'pintaku.
'Apaaa?? Buka? Owh kamu jadi puasa to?yakin??
Ya,ya nanti tak simpenin buat kamu buka.'jawab Ibuk.
Yah memang Ibukku, adalah orang yang sangat memuliakan anaknya yang
berpuasa. Puasa apa pun, anaknya minta buka pake apa pun pasti
disediakan,.
Namun agak sdikit tidak berkenan dengan jawaban beliau. Seakan2
beliau tidak mempercayaiku, dengan jawaban yang setengah meledeknya yang
tersirat dan khaaaasss..
'Iya jadi,doain aku kuat ya.'jawabanku sembari meminta doa restu..
'Berat lho, ini puasanya orang lanjut usia, apalagi kamu hampir
datng bulan, nanti eman2 kalau nyawalnya ga penuh, pedot di tengah
jalan...'
Itu tuh jawaban Ibuk yang menggoyahkan iman, tapi maaf Buk kali ini
anakmu akan berhasil memacahkan rekor puasa syawal pertamanya. Lihat aja
aku yang menang Buk, bukan kata-kata Ibuk itu,,(ini nih niat puasanya
ternoda, n gak tulus)..
'Ehm, insyaallah aku pasti kuat kok Buk..' jawabku, meyakinkan Ibuk dan meyakinkan diriku sendiri.
To be continued deh, penulis gadungan udah ngantuk...
Lanjut lagi ya...
Masih pukul 9 pagi, perutku masih tahan lho meski gak sahur. Hihi, sedikit bangga dengan prestasi yang bukan prestasi ini,wkwk
aku dan keluarga menuju rumah Budhe yang jaraknya gak jauh2 bgt sih dari rumahku.
Saat mau berangkat Bapakku bilang, ''kamu naik sepeda aja ke rumah
budhe sama pas halal bihalalnya ya? Motornya gak cukup Mbak.'' ujar
Babeku, yg belum tahu kalau buah hatinya sedang berjihad puasa
syawal..(agak lebay,hehe) namun langsung ku iyakan saja, pada dasarnya
memang aku suka bersepeda.
Hari itu cuaca tak seperti biasanya, teriknya matahari kurasa agak
berbeda, entah ini memang lebih terik atau aku ditipu oleh syaitan agar
aku tidak melanjutkan puasaku dengan halusinasi saat itu, hingga aku
menganggap hari itu sangat terik.
Tidak, aku tidak tergoda dengan terik panas matahari. Dulu waktu SMP
aku juga sering pulang kepanasan, naik sepeda dari sekolahku di siang
bolong di bulan ramadhan, aku kuat tuh.
Waktu SMA aku juga pernah puasa nyarutang gak sahur, dan sorenya aku berangkat untuk latihan basket.
Saat teman2ku menenggak air putih dingin setelah bermain, sambil
agak ngos-ngosan, di seberang sana aku duduk dengan ngos-ngosan dengan
tenggorokan yang teramat kering dan peyut agak keroncongan.
Nah pengalamanku itu membuatku semakin yakin untuk tetap berpuasa,
seterik apa pun matahari menyinari bumi ini, dan selelah apa pun
kumengayuh sepeda, kuyakin Allah membantuku, menguatkanku..
Huh, akhirnya sampai juga di rumah Budhe, dengan nafas
tersengal-sengal ku menjabat tangan para sedulur dan meminta maaf
seperti biasanya, karena rute ke rumah budhe itu tanjakannya mantap dah,
menguras tenaga dan energi sisa makanan lebaran hari pertamaku yang
masih membuatku bertahan hidup hingga titik ini.
Kebanyakan keluargaku pada duduk di rumah budhe yang belakang,
karena disanalah tersedia berbagai hidangan mak nyuuusss yang disiapkan
budhe untuk menyuguh sanak sodaranya.
Kususuri ruang demi ruang untuk mencari sepupu2ku untuk meminta
maaf, hingga akhirnya sampailah di tempat kebanyakan dari mereka
berkumpul, yaitu sarang makanan.
Okedah aku tidak akan tergoda dengan makanan yang sepertinya memang
nikmat itu, cuma aku bingung menanggapi permintaan budheku yang sangat
dekat kepadaku, beliau ini sangat menyayangiku, akulah keponakan yang
paling diingat, yang sering bgt dibeliin baju, diajak liburan, dan masih
banyak lagi kecenderungan beliau terhadapku yang membuatku merasa tak
nyaman saat aku menolak halus saat diajak makan.
Dalam hati, aku hanya berkata ''maaf Budhe, aku bohong, sebenarnya
aku belum makan, karena aku puasa budhe, maaf, maaf, maaf, sebenarnya
bila aku tak puasa kan kulahap habis masakan2mu, apalagi itu tuh yang
ada di toples, dngan aroma keju yang menggoda. Sekali lagi maafkan aku
ya.''
Aku menjauh dari tempat sodara2ku makan, bermain dengan ponakan2ku yang unyu2 bgt.
Eh saat kusapa si bayi mungil itu, Ayah dari sang bayi(kakak
sepupuku) meledekku diet karena dia tahu aku gak makan apa pun, malah
mondar mandir main sama balita balita unyu..
''Ckk, makan dong, banyak makanan malah gak makan. Duh kamu tuh
kalau diet jangan gak makan gitu..'' meledekku dengan mengelus perutnya
yang gendut, dan kekenyangan, serta senyum yang sangat ngece.
Aku hanya bisa tersenyum simpul, dan dalam hati aku meledeknya
''enak aja, siapa yang diet, yang gendut kan situ, masak badan sekecil
aku diet, bisa bisa tinggal tulang belulang doang kalau aku
diet''..hihihi
*godaan oh godaan
Mulai deh halal bihalalnya.
Tempat pertama yang dikunjungi yaitu rumah pakdhe yang letaknya tepat di samping rumah budheku..
Nah gak tahu tuh kenapa bisa aku panggil Pakdhe. Denger2 sih mbah
kakung dari bapak itu kakak adik sama bapaknya pakdhe yang rumahnya di
samping budhe...hahaha ribet dah.
Yang penting beliau adalah saudaraku yang patut sy hormati..(adegan ini jangan ditiru ya).
Oya (addition nih)dulu waktu aku kecil aku diperebutkan kesana
kemari, aku mau diangkat jadi anak budheku, terus sama pakdheku yang
ini, ada lagi om tanteku yang pada saat itu merindukan momongan juga
memintaku untuk tinggal bersama mereka di Jawa Barat. Sampai sekarang
aku juga bingung, kenapa harus aku yang diperebutkan? Ponakan yang jauh
lebih unyu kayaknya juga banyak.
Mungkin mereka melihatku bagai mutiara yang sangat berharga ya?
Sampai2 aku diminta dari orang tuaku, tapi apa mungkin orang tuaku juga
akn mengikhlaskan mutiara titipan Illahi. Iya, mereka tetap menawariku
mau atau tidak karena mereka menganggap ini pilihan hidupku? Berat
banget ya, masih kecil gak tahu lor kidul dikasih pilihan yang berat.
Jelas ku tak mau tak, kan Allah mempercayakan Ayah Ibuku untuk
mendidikku, bukan orang lain. Namun yang jelas, ketidakmauanku bukan
karena itu, aku kan masih kecil, jadi ga berpikir sejauh itu. Aku gak
mau soalnya aku ini anaknya pemalu saat masih kecil, jadi aku takut ga
berani minta makan saat aku sudah kelaparan, aku takut kalau mau minta
dianter pipis padahal udah kebelet bgt..hihihi
*ups maap additionnya agak gak mutu,,haha
Berbondong2 aku dan keluarga besarku ke rumah beliau, untung
rumahnya segedhe lapangan terbang(agak hiperbol) jadi bisa nampung
makhluk2 sebanyak ini.
Karena banyak cemilan2 yang menggoda aku menjauhi godaan itu dengan
cara bermain dengan sepupuku dan ponakanku yang masih jauh di bawah
umurku. Aku memecahkan puzzle yang sangat sulit bersama adikku, entahlah
Pakdheku ini memang pecinta anak anak sehingga memfasilitasi aku dan
ponakanku dengan mainan2 untuk meningkatkan kecerdasan. Baru kali ini
nih lihat puzzle yang modelnya begini. Trims pakdhe, sudah membuatku
menghabiskan energi untuk berpikir sangat berat gara gara puzzle.
Setelah lelah bermain, aku mendekati Ibukku tercinta dan duduk
disampingnya sambil menyandarkan kepalaku yang terasa berat ke bahunya.
Migrain menyerang,huhu inilah rasa yang paling sensasional, jauh lebih
sensasional dari lembut dan nikmatnya kastengel Budheku yang sedang
kukunyah dalam lamunan(astaghfirullah)..
'gimana kabar puasamu Nak? Masih kuat? Berat kan? Itukan puasanya simbah simbah lanjut usia.' selidik Ibu.
'Kuat dong Buk.' sahutku dengan penuh semangat kebohongan,hehe
sesungguhnya jawaban itu hanya untuk memotivasi imanku untuk tetap
puasa, dan meyakinkan Ibu, bahwa aku adalah anakmu yang kuat dan tahan
godaan..
Pindah lagi ke tempat saudaraku yang lain. Kukayuh sepeda dengan
penuh semangat meski matahari begitu membakar kulit punggung tanganku
yang mengendalikan setang sepeda warna abu abu kesukaanku.
Kastengel lagi kastengel lagi.. Ketemu lagi dengan cemilan itu.
Kakak sepupuku yang sangat tahu kesukaanku menyapa 'wah ya ini kalau
ada kastengel stoples di hadapanmu ya tanpa diminta untuk menghabiskan
pasti habis setoples2nya, ayo tuh dimakan!'
lagi lagi aku hanya menjawab dengan trsenyum tersapu malu,hihi kakak
sepupuku mungkin agak heran kenapa aku tidak sesemangat biasanya bila
melihat kastengel, ya karena yang tahu aku mau puasa syawal cuma Ibukku
saja.
Di rumah saudaraku yang lain lain lain lagi kutemui hal yang sama,
pertanyaan sepupuku yang heran dengan ketidaktertarikanku dengan
kastengel dan pertanyaan Ibuk yang selalu sama dari rumah ke
rumah,'gimana puasamu Nak? Masih kuat? Eh ada kastengel tuh Nduk. Oya
kamu udah saatnya datang bulan kan? Itu tuh jerawatnya udah nongol,
kalau nyawalnya ga penuh kayaknya gak afdol lho, semangat yahhh,,'
Hey 'Iman' kau masih bersamaku kan? Hmm, aku masih kuat. Aku tak kan tergoda oleh apa pun. Allah bersamaku menguatkanku.
Inilah klimaks dari kisah klasik aneh sensasional memalukan di hari pertama puasa syawalku..haha..
Saat itu aku dan keluarga besarku melanjutkan halal bihalal dan
bertandang ke rumah simbah yang aku tak begitu tahu asal mula serta
kenapa aku harus memanggilnya mbah.
Aku duduk tepat disamping Ibukku yang pada saat itu sebenarnya
sedang sakit, di depanku duduk sesosok laki laki paling tampan yang
pernah kukenal, beliau Bapakku..
'Eh itu tuh ada kastengel, kok tak kau sentuh Nak? Biasanya
semangat!' belum seempat kujawab pertanyaan Bapak, Ibu sudah menanyaiku
dengan pertanyaan yang sama dengan pertnyaan2 sebelumnya
'Gimana Nak puasamu?', tanya Ibuku.
Belum sempat kumanjawab lagi, Babeku tercinta sudah menindih pertanyaan Ibuk 'owalah kamu puasa Pa?'
'Iya aku puasa Pak. Masih kuat kok Buk.'
Entah aku bingung kenapa Bapak tersenyum kepadaku semanis itu. Saat
ku sedang bingung dengan keyakinanku untuk melanjutkan puasa atau tidak,
Ibu semakin menggoyahkan tiang yang teramat rapuh itu.
Sebenarnya kepekaan hati seorang Ibuk tehadap kegalauan hati anaknya
sangatlah tajam. Ibuku mengatakan lagi bahwa puasa ini memang sangat
berat bagi seorang remaja, aku harus realistis pikirku. Dan beliau
berulang2 memberi pertanyaan yang sama dan mengatakan berbagai alasan
untukku membpertimbangkan niatku untuk puasa. Aku tak lama lagi akan
datang bulan dan otomatis usahaku sia sia hari ini bila besok pagi tamu
bulananku datang dan memutuskan rentetan puasa swayalku.
'lihat tuh jerawatmu, Ibuk yakin Ndhuk tak lama lagi tamumu datang.
Ini puasa yang berat. Bukan maksud Ibuk inginkan dirimu membatalkan
niatmu berpuasa. Ibu sangat bersyukur bila kamu bisa puasa syawal sampai
selesei seperti nenekmu. Tapi sungguh Ibuk tidak tega juga bila
melihatmu susah payah kelaparan kehausan dan menahan godaan berat namun
harus berhenti di tengah jalan karna datang bulan. Sesungguhnya tidak
ada ibadah yang sia-sia bila dalam menjalankannya sesuai syariat. Kamu
juga tahu kan kalau kamu sudah punya niat kebaikan Allah akan menghitung
niatmu itu sebagai ibadah yang kamu niatkan meski belum tentu kamu
melaksanakan niatmu itu. Sekarang terserah kamu mau lanjut atau tidak,
kalau lanjut ya alhamdulillah.. Kalau enggak ya nggakpapa. Toh kamu kan
memang masih remaja, dan sebentar lagi datang bulan. Nenek selalu puasa
penuh karena sudah menopous, dan memang beliau ahli ibadah. Ibuk juga
belum bisa tuh puasa syawal.' tutur Ibuku dengan lembut dan kasih
sayang.
Betul juga Ibukku, Nenek adalah ahli ibadah, sedangkan aku tiang
agamanya aja masih rapuh mau coba-coba ibadah yang jauh lebih berat.
Terus Ibukku juga benar, meskipun hanya niat Allah menghitungnya sebagai amalan.
Aku kan sudah sangat niat, tapi kenapa sampai titik ini aku masih
ragu juga mau melanjutkan puasa. Kalau ibadahku penuh dengan keraguan
seperti ini apa akan diterima ya?
Ya Rabb, kenapa hatiku jadi lebih cenderung untuk membatalkan ya? Ampuni aku, ampuni aku ya Ghoffar..
Aku ingin sekali puasa, tp tadi aku sudah ada niat untuk
membatalkannya, aku sudah membayangkan makan, oh tidakkkk hatiku sangat
berkecamuk, penuh kegalauan yang semakin membuat puasa syawalku akan
ternoda bila kuteruskan.
'kalau aku mbatalin, dosa gak ya Buk? Aku takut, aku juga malu bila
harus membatalkannya, padahal udah niatttt bgt tp ternyata aku batalkan,
Allah akan menertawakanku tidak ya?' tanyaku pada Ibuk.
Langsung dijawab dengan bijak,'ya tidak dosa Nak, kalau memang tidak
kuat ya jangan dipaksakan, itu namanya menganiaya diri, dan Allah
sangat tidak suka pada hambanya yang aniaya, apalagi tadi kamu ga sahur,
tadi bilangnya juga migrain kan Nak? Allah pasti akan menghargai niatmu
Nak, mana mungkin Allah menertawakanmu, Dia Mahabijaksana Nak,
memangnya kamu yang suka menertawakan temanmu?!'
hmm, semakin yakin dengan niatku untuk membatalkan puasa.
Di samping Bapakku yang sedang beranjak dari tempat duduknya ada kakakku yang menggodaku dngan membuka toples berisi kastengel.
'Tuh ada kastengel, mau buka puasa syawal gak, tepat banget tuh udah azan zuhur..' tanya Ibuku.
Aku agak galau, namun sdikit lebih banyak cenderung untuk
membatalkan puasaku. Sambil kumengambil toples itu dalam hati aku
meminta maaf pada Allah ''y Allah maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk
mempermainkan-Mu, aku hanya tidak ingin ibadahku ternoda oleh
keraguanku,aku ingin puasaku sempurna, sdalam dan setulus hatiku aku
memohon pada-Mu ya Ghoffar, aku malu pada-Mu, aku malu imanku masih
setipis dan serapuh ini,''
sambil kupejamkan mata kumasukan kastengel itu ke mulutku, dan batallah puasa syawalku.
Ibukku sangat tahu sesungguhnya aku juga menyesal setelah
membatatkannya, dan beliau meyakinkanku bahwa ini wajar. Namun tetap
kata kata Ibuk yang sangat memotivasiku agar aku bangkit dari
keterpurukan karena kegagalanku berpuasa tak mampu menghalau hatiku
untuk sangat menyesali perbuatanku.
Aku masih tetap kecewa pada diriku sendiri. Kenapa tadi aku makan
kastengelnya. Ahh terlanjur, tahun depan aku harus benar2 bisa.
Tuhan beri aku kesempatan kedua, maafkan aku telah mengecewakanmu, sungguh aku malu pada-Mu ya Rabb.
Aku semakin malu saat Bapak mendapatiku sedang memakan kastengel, padahal baru saja beliau mengetahui aku berpuasa.
'lho kok???'
'iya Pak,aku membatalkannya'sambil menundukkan kepala kumenjawab dengan penuh malu.
Dan akhirnya aku keluar dari ruangan itu. Entah Ibuk berbisik apa
pada Bapak. Biasanya bila aku gagal dalam segala sesuatu pasti Bapak
menertawaknku dan meledekku habis2an, tapi saat aku gagal di ujian ini
beliau diam saja.
Akhirnya untuk menenangkan hatiku, aku mendirikan shalat taubat dan
memohon ampun pada-Nya ats kegagalanku. Setalah itu hatiku agak
tenang.........
^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan tinggalkan komentar Anda,, ^_^ mksh