Sabtu, 08 September 2012

PENGALAMAN HEBAT

^_^Intro:
Hmm, sebelum kugoreskan tinta hitam di atas lembaran kertas putih bergaris ini...

Ups, maksud sy sebelum sy menulis sebuah kisah bodoh, namun menginspirasi stiap insan yang terlahir di muka bumi ini...(hahaha lebay gila) sy memohon maaf yang setulus2nya ats segala sikap,perkataan, dan prasangka buruk yang meninggalkan bekas noda di hati anti dan antum sekalian, berhubung masih suasana lebaran nich...
Sebenarnya ane bukan orang yg pandai berkata2, bukan penulis yg pandai merangkai cerita dan membangun imajinasi para pembacanya, bukan juga Andrea Hirata..hehe karena memang sy hanyalah Sofia Paramita, manusia biasa yang masih simpang siur imannya, tp takut masuk neraka bila ajal memanggilnya..hehehe yah samalah dengan manusia2 lain..
Sebenarnya takut sekali dengan azab dan murka-Nya tp tak henti-hentinya menabung dosa...
Ampuni kami ya Rabb..

ini hanyalah sebuah kisah yang mengungkapkan tentang 'IMAN'..bila bicara mengenai hal tersebut di atas memang berat, karena menyangkut tentang keyakinan..
Namun kisah yang ini bukan menceritakan tentang keyakinan itu sendiri.
Tapi tentang komitmen jiwa yang masih sulit sekali dalam menjalankannya...

Langsung saja..
Ini hanyalah buah keisengan, bukan buah kreativitasku,karena sesungguhnya sy bukan orang yang kreatif..hehe
(ini bukan merendah,tp fakta)..

Puasa syawal..ya ya ya aku harus bisa seperti nenek. Yap kumantapkan dalam hati. Tahun ini aku tak ingin gagal lagi. Biarlah apa pun atau siapa pun yang menghalangiku untuk berpuasa seperti nenek tak kan kugubris seperti tahun yang sebelum2nya.
Kini aku telah dewasa, dulu kan aku masih agak keanak2an dan memang aku juga kurang yakin untuk menjalaninya, selain itu masih berpikir belum waktunya untuk melakukan puasa itu. Aku kan masih ingin makan kastengelnya Budhe, terus opor bikinan Ibuk, oya gak lupa juga tuh sirup-sirup yg akan terasa segar diminum saat halal bihalal di tempat sodara n tetangga...
Dan seperti biasa Ibukku selalu bilang ''Itu tuh puasanya orang yang udah lanjut usia, yang udah gak berhalangan, dan gak sowan kemana2, jadi godaannya ga begitu berat. Kamu kan masih harus muter ke rumah Budhe, Pakdhe, Om, tetangga.. Apa kamu gak tergoda kalau ada setoples kastengel di depan mata disiakan saja?? Tapi ya terserah kamu sih, bagus juga kalau kamu bisa menjalaninya. Hebat deh kalau bisa'' ujar simbokku kalau aku minta pendapat tentang puasa syawal,
dan selalu membuatku galau..wkwk

*Lebaran hari 1...
As always.. Aku dan keluarga ke rumah nenek (my inspirator) ..
Shalat Idul Fitri di mushola depan rumah beliau seperti tahun2 sebelumnya.. Tapi tahun ini agak beda sih, tahu kenapa?? Soalnya biasanya aku sekeluarga telat dateng, pernah juga tuh sampe gak shalat gara-gara pas udah nyampe, eh ternyata udah selesei shalatnya..
Ouch..ouch..ouch.. Kecewa.. Dan menyesal...
Hehe

*sungkeman...
Nah ini acara yang ditunggu, sungkem menyungkem sama Nenek, Ibuk, Bapak(rekayasa,soalnya wktu itu Bapak lg ada acara urgen), dan semua keluarga dari Ibuk..
Tak ketinggalan juga lembaran-lembaran rupiah masuk ke kantongku..hehe(just for addition)..
Lalu ke makam Kakek, terus ke rumah kakaknya nenek, terus ke rumah, rumah, rumah lainnya yg sering lupa kalau habis dijelasin urut2an hubungan persaudaraannya, dalam hati hanya berkata yang penting tahu lah orang itu sodaraku,hehe maklum anak muda...
And finally I went home, sesampainya di rumah aku duduk di dekat Ibuk yang sedang merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur yang tingkat keempukannya lebih empuk dari kasur yang ada di kamar kosku,wehehe(agak gak penting sebenarnya)
'Buk, kalau puasa syawal harus selama itu ya?
Gak boleh sehari puasa sehari nggak?
Kalau nggak ya, pas puasa pengen nyicipin kastengel budhe secuuuiiluuil aja, terus puasanya dilanjutin lagi boleh ga ya?(yg ini gak aku tanyain sih,cuma dalam hati aja,hehe) Aku besok mau puasa ya kayak nenek.' tanyaku, dan sedikit menanti motivasi dari Ibuk untuk semakin yakin dengan puasa syawal yang akan kujalani.
'Iya, afdolnya begitu, puasnya mulai lebaran hari kedua.
Yakin nih mau puasa? Besok kan kumpul keluarga besar dari Bapak di rumah Budhe, disana pasti dimasakin enak, kastengelnya enak, habis itu zuhur sodara2 pada ke rumah kita,
Ibuk juga masak opor kesukaanmu, ada sayap ayam kampung kesukaanmu, besok halal bihalalnya sampe sore, kamu kuat gak?' jawab Ibuk.. Jawaban ini bagai teka teki yang membuat imanku agak tergoyah, mau menganggap ini sebagai bentuk motivasi untuk tetap berpuasa walau godaannya seberat itu, atau......
Ini akan jadi alasan untuk mentolerir ketidakjadian puasaku lagi?
Ya Allah beri petunjuk-Mu,
aku ingin sekali bisa puasa syawal, memecahkan keraguan Ibuk tentang iman seorang remaja yang diremehkan, ya meski Ibukku tidak sejahat itu hingga punya pikiran seburuk itu, ini hanya fiktif belaka kok, diingat ya !..

Kali ini aku sangat yakin aku bisa puasa syawal,
aku pasti bisa tahan bila melihat stoples kastengel, nanti maghrib kan aku juga bisa memakannya.
Opor ayam dengan sayap ayam kampung, gampang lah minta Ibuk buat menyisihkan dan nyimpenin buat aku pas buka kan juga bisa.
Ya, malam hari aku udah niatin buat puasa..
Hmm,malam ini aku tepar teramat gasik,hingga aku lupa mengatur alarm sebelum tidur..
Alhasil.....

*lebaran hari kedua...
Saat ku terbangun dari mimpi yang indah dalam lelapnya tidur karena kelelahan halal bihalal hari pertama, kusadari aku terbangun pukul setengah enam,,(nggaya bgt,shalat subuh masih telat mau puasa syawal,hihi)
entah shalat subuhku diterima atau tidak, aku pasrahkan pada yang Mahakuasa..
Setelah shalat aku ke kamar mandi, sebelum sampai, ada Ibu lagi masak opor..hmmm yummy bgt dah aroma masakan simbok...
'Buk, sayapnya disisihkan buat aku buka puasa ya?'pintaku.
'Apaaa?? Buka? Owh kamu jadi puasa to?yakin??
Ya,ya nanti tak simpenin buat kamu buka.'jawab Ibuk.
Yah memang Ibukku, adalah orang yang sangat memuliakan anaknya yang berpuasa. Puasa apa pun, anaknya minta buka pake apa pun pasti disediakan,.
Namun agak sdikit tidak berkenan dengan jawaban beliau. Seakan2 beliau tidak mempercayaiku, dengan jawaban yang setengah meledeknya yang tersirat dan khaaaasss..
'Iya jadi,doain aku kuat ya.'jawabanku sembari meminta doa restu..
'Berat lho, ini puasanya orang lanjut usia, apalagi kamu hampir datng bulan, nanti eman2 kalau nyawalnya ga penuh, pedot di tengah jalan...'
Itu tuh jawaban Ibuk yang menggoyahkan iman, tapi maaf Buk kali ini anakmu akan berhasil memacahkan rekor puasa syawal pertamanya. Lihat aja aku yang menang Buk, bukan kata-kata Ibuk itu,,(ini nih niat puasanya ternoda, n gak tulus)..
'Ehm, insyaallah aku pasti kuat kok Buk..' jawabku, meyakinkan Ibuk dan meyakinkan diriku sendiri.

To be continued deh, penulis gadungan udah ngantuk...

Lanjut lagi ya...

Masih pukul 9 pagi, perutku masih tahan lho meski gak sahur. Hihi, sedikit bangga dengan prestasi yang bukan prestasi ini,wkwk
aku dan keluarga menuju rumah Budhe yang jaraknya gak jauh2 bgt sih dari rumahku.
Saat mau berangkat Bapakku bilang, ''kamu naik sepeda aja ke rumah budhe sama pas halal bihalalnya ya? Motornya gak cukup Mbak.'' ujar Babeku, yg belum tahu kalau buah hatinya sedang berjihad puasa syawal..(agak lebay,hehe) namun langsung ku iyakan saja, pada dasarnya memang aku suka bersepeda.
Hari itu cuaca tak seperti biasanya, teriknya matahari kurasa agak berbeda, entah ini memang lebih terik atau aku ditipu oleh syaitan agar aku tidak melanjutkan puasaku dengan halusinasi saat itu, hingga aku menganggap hari itu sangat terik.
Tidak, aku tidak tergoda dengan terik panas matahari. Dulu waktu SMP aku juga sering pulang kepanasan, naik sepeda dari sekolahku di siang bolong di bulan ramadhan, aku kuat tuh.
Waktu SMA aku juga pernah puasa nyarutang gak sahur, dan sorenya aku berangkat untuk latihan basket.
Saat teman2ku menenggak air putih dingin setelah bermain, sambil agak ngos-ngosan, di seberang sana aku duduk dengan ngos-ngosan dengan tenggorokan yang teramat kering dan peyut agak keroncongan.
Nah pengalamanku itu membuatku semakin yakin untuk tetap berpuasa, seterik apa pun matahari menyinari bumi ini, dan selelah apa pun kumengayuh sepeda, kuyakin Allah membantuku, menguatkanku..
Huh, akhirnya sampai juga di rumah Budhe, dengan nafas tersengal-sengal ku menjabat tangan para sedulur dan meminta maaf seperti biasanya, karena rute ke rumah budhe itu tanjakannya mantap dah, menguras tenaga dan energi sisa makanan lebaran hari pertamaku yang masih membuatku bertahan hidup hingga titik ini.
Kebanyakan keluargaku pada duduk di rumah budhe yang belakang, karena disanalah tersedia berbagai hidangan mak nyuuusss yang disiapkan budhe untuk menyuguh sanak sodaranya.
Kususuri ruang demi ruang untuk mencari sepupu2ku untuk meminta maaf, hingga akhirnya sampailah di tempat kebanyakan dari mereka berkumpul, yaitu sarang makanan.
Okedah aku tidak akan tergoda dengan makanan yang sepertinya memang nikmat itu, cuma aku bingung menanggapi permintaan budheku yang sangat dekat kepadaku, beliau ini sangat menyayangiku, akulah keponakan yang paling diingat, yang sering bgt dibeliin baju, diajak liburan, dan masih banyak lagi kecenderungan beliau terhadapku yang membuatku merasa tak nyaman saat aku menolak halus saat diajak makan.
Dalam hati, aku hanya berkata ''maaf Budhe, aku bohong, sebenarnya aku belum makan, karena aku puasa budhe, maaf, maaf, maaf, sebenarnya bila aku tak puasa kan kulahap habis masakan2mu, apalagi itu tuh yang ada di toples, dngan aroma keju yang menggoda. Sekali lagi maafkan aku ya.''
Aku menjauh dari tempat sodara2ku makan, bermain dengan ponakan2ku yang unyu2 bgt.
Eh saat kusapa si bayi mungil itu, Ayah dari sang bayi(kakak sepupuku) meledekku diet karena dia tahu aku gak makan apa pun, malah mondar mandir main sama balita balita unyu..
''Ckk, makan dong, banyak makanan malah gak makan. Duh kamu tuh kalau diet jangan gak makan gitu..'' meledekku dengan mengelus perutnya yang gendut, dan kekenyangan, serta senyum yang sangat ngece.
Aku hanya bisa tersenyum simpul, dan dalam hati aku meledeknya ''enak aja, siapa yang diet, yang gendut kan situ, masak badan sekecil aku diet, bisa bisa tinggal tulang belulang doang kalau aku diet''..hihihi

*godaan oh godaan
Mulai deh halal bihalalnya.
Tempat pertama yang dikunjungi yaitu rumah pakdhe yang letaknya tepat di samping rumah budheku..
Nah gak tahu tuh kenapa bisa aku panggil Pakdhe. Denger2 sih mbah kakung dari bapak itu kakak adik sama bapaknya pakdhe yang rumahnya di samping budhe...hahaha ribet dah.
Yang penting beliau adalah saudaraku yang patut sy hormati..(adegan ini jangan ditiru ya).
Oya (addition nih)dulu waktu aku kecil aku diperebutkan kesana kemari, aku mau diangkat jadi anak budheku, terus sama pakdheku yang ini, ada lagi om tanteku yang pada saat itu merindukan momongan juga memintaku untuk tinggal bersama mereka di Jawa Barat. Sampai sekarang aku juga bingung, kenapa harus aku yang diperebutkan? Ponakan yang jauh lebih unyu kayaknya juga banyak.
Mungkin mereka melihatku bagai mutiara yang sangat berharga ya? Sampai2 aku diminta dari orang tuaku, tapi apa mungkin orang tuaku juga akn mengikhlaskan mutiara titipan Illahi. Iya, mereka tetap menawariku mau atau tidak karena mereka menganggap ini pilihan hidupku? Berat banget ya, masih kecil gak tahu lor kidul dikasih pilihan yang berat. Jelas ku tak mau tak, kan Allah mempercayakan Ayah Ibuku untuk mendidikku, bukan orang lain. Namun yang jelas, ketidakmauanku bukan karena itu, aku kan masih kecil, jadi ga berpikir sejauh itu. Aku gak mau soalnya aku ini anaknya pemalu saat masih kecil, jadi aku takut ga berani minta makan saat aku sudah kelaparan, aku takut kalau mau minta dianter pipis padahal udah kebelet bgt..hihihi
*ups maap additionnya agak gak mutu,,haha

Berbondong2 aku dan keluarga besarku ke rumah beliau, untung rumahnya segedhe lapangan terbang(agak hiperbol) jadi bisa nampung makhluk2 sebanyak ini.
Karena banyak cemilan2 yang menggoda aku menjauhi godaan itu dengan cara bermain dengan sepupuku dan ponakanku yang masih jauh di bawah umurku. Aku memecahkan puzzle yang sangat sulit bersama adikku, entahlah Pakdheku ini memang pecinta anak anak sehingga memfasilitasi aku dan ponakanku dengan mainan2 untuk meningkatkan kecerdasan. Baru kali ini nih lihat puzzle yang modelnya begini. Trims pakdhe, sudah membuatku menghabiskan energi untuk berpikir sangat berat gara gara puzzle.
Setelah lelah bermain, aku mendekati Ibukku tercinta dan duduk disampingnya sambil menyandarkan kepalaku yang terasa berat ke bahunya. Migrain menyerang,huhu inilah rasa yang paling sensasional, jauh lebih sensasional dari lembut dan nikmatnya kastengel Budheku yang sedang kukunyah dalam lamunan(astaghfirullah)..
'gimana kabar puasamu Nak? Masih kuat? Berat kan? Itukan puasanya simbah simbah lanjut usia.' selidik Ibu.
'Kuat dong Buk.' sahutku dengan penuh semangat kebohongan,hehe sesungguhnya jawaban itu hanya untuk memotivasi imanku untuk tetap puasa, dan meyakinkan Ibu, bahwa aku adalah anakmu yang kuat dan tahan godaan..
Pindah lagi ke tempat saudaraku yang lain. Kukayuh sepeda dengan penuh semangat meski matahari begitu membakar kulit punggung tanganku yang mengendalikan setang sepeda warna abu abu kesukaanku.
Kastengel lagi kastengel lagi.. Ketemu lagi dengan cemilan itu.
Kakak sepupuku yang sangat tahu kesukaanku menyapa 'wah ya ini kalau ada kastengel stoples di hadapanmu ya tanpa diminta untuk menghabiskan pasti habis setoples2nya, ayo tuh dimakan!'
lagi lagi aku hanya menjawab dengan trsenyum tersapu malu,hihi kakak sepupuku mungkin agak heran kenapa aku tidak sesemangat biasanya bila melihat kastengel, ya karena yang tahu aku mau puasa syawal cuma Ibukku saja.
Di rumah saudaraku yang lain lain lain lagi kutemui hal yang sama, pertanyaan sepupuku yang heran dengan ketidaktertarikanku dengan kastengel dan pertanyaan Ibuk yang selalu sama dari rumah ke rumah,'gimana puasamu Nak? Masih kuat? Eh ada kastengel tuh Nduk. Oya kamu udah saatnya datang bulan kan? Itu tuh jerawatnya udah nongol, kalau nyawalnya ga penuh kayaknya gak afdol lho, semangat yahhh,,'
Hey 'Iman' kau masih bersamaku kan? Hmm, aku masih kuat. Aku tak kan tergoda oleh apa pun. Allah bersamaku menguatkanku.

Inilah klimaks dari kisah klasik aneh sensasional memalukan di hari pertama puasa syawalku..haha..
Saat itu aku dan keluarga besarku melanjutkan halal bihalal dan bertandang ke rumah simbah yang aku tak begitu tahu asal mula serta kenapa aku harus memanggilnya mbah.
Aku duduk tepat disamping Ibukku yang pada saat itu sebenarnya sedang sakit, di depanku duduk sesosok laki laki paling tampan yang pernah kukenal, beliau Bapakku..
'Eh itu tuh ada kastengel, kok tak kau sentuh Nak? Biasanya semangat!' belum seempat kujawab pertanyaan Bapak, Ibu sudah menanyaiku dengan pertanyaan yang sama dengan pertnyaan2 sebelumnya
'Gimana Nak puasamu?', tanya Ibuku.
Belum sempat kumanjawab lagi, Babeku tercinta sudah menindih pertanyaan Ibuk 'owalah kamu puasa Pa?'
'Iya aku puasa Pak. Masih kuat kok Buk.'
Entah aku bingung kenapa Bapak tersenyum kepadaku semanis itu. Saat ku sedang bingung dengan keyakinanku untuk melanjutkan puasa atau tidak, Ibu semakin menggoyahkan tiang yang teramat rapuh itu.
Sebenarnya kepekaan hati seorang Ibuk tehadap kegalauan hati anaknya sangatlah tajam. Ibuku mengatakan lagi bahwa puasa ini memang sangat berat bagi seorang remaja, aku harus realistis pikirku. Dan beliau berulang2 memberi pertanyaan yang sama dan mengatakan berbagai alasan untukku membpertimbangkan niatku untuk puasa. Aku tak lama lagi akan datang bulan dan otomatis usahaku sia sia hari ini bila besok pagi tamu bulananku datang dan memutuskan rentetan puasa swayalku.
'lihat tuh jerawatmu, Ibuk yakin Ndhuk tak lama lagi tamumu datang. Ini puasa yang berat. Bukan maksud Ibuk inginkan dirimu membatalkan niatmu berpuasa. Ibu sangat bersyukur bila kamu bisa puasa syawal sampai selesei seperti nenekmu. Tapi sungguh Ibuk tidak tega juga bila melihatmu susah payah kelaparan kehausan dan menahan godaan berat namun harus berhenti di tengah jalan karna datang bulan. Sesungguhnya tidak ada ibadah yang sia-sia bila dalam menjalankannya sesuai syariat. Kamu juga tahu kan kalau kamu sudah punya niat kebaikan Allah akan menghitung niatmu itu sebagai ibadah yang kamu niatkan meski belum tentu kamu melaksanakan niatmu itu. Sekarang terserah kamu mau lanjut atau tidak, kalau lanjut ya alhamdulillah.. Kalau enggak ya nggakpapa. Toh kamu kan memang masih remaja, dan sebentar lagi datang bulan. Nenek selalu puasa penuh karena sudah menopous, dan memang beliau ahli ibadah. Ibuk juga belum bisa tuh puasa syawal.' tutur Ibuku dengan lembut dan kasih sayang.
Betul juga Ibukku, Nenek adalah ahli ibadah, sedangkan aku tiang agamanya aja masih rapuh mau coba-coba ibadah yang jauh lebih berat.
Terus Ibukku juga benar, meskipun hanya niat Allah menghitungnya sebagai amalan.
Aku kan sudah sangat niat, tapi kenapa sampai titik ini aku masih ragu juga mau melanjutkan puasa. Kalau ibadahku penuh dengan keraguan seperti ini apa akan diterima ya?
Ya Rabb, kenapa hatiku jadi lebih cenderung untuk membatalkan ya? Ampuni aku, ampuni aku ya Ghoffar..
Aku ingin sekali puasa, tp tadi aku sudah ada niat untuk membatalkannya, aku sudah membayangkan makan, oh tidakkkk hatiku sangat berkecamuk, penuh kegalauan yang semakin membuat puasa syawalku akan ternoda bila kuteruskan.
'kalau aku mbatalin, dosa gak ya Buk? Aku takut, aku juga malu bila harus membatalkannya, padahal udah niatttt bgt tp ternyata aku batalkan, Allah akan menertawakanku tidak ya?' tanyaku pada Ibuk.
Langsung dijawab dengan bijak,'ya tidak dosa Nak, kalau memang tidak kuat ya jangan dipaksakan, itu namanya menganiaya diri, dan Allah sangat tidak suka pada hambanya yang aniaya, apalagi tadi kamu ga sahur, tadi bilangnya juga migrain kan Nak? Allah pasti akan menghargai niatmu Nak, mana mungkin Allah menertawakanmu, Dia Mahabijaksana Nak, memangnya kamu yang suka menertawakan temanmu?!'
hmm, semakin yakin dengan niatku untuk membatalkan puasa.
Di samping Bapakku yang sedang beranjak dari tempat duduknya ada kakakku yang menggodaku dngan membuka toples berisi kastengel.
'Tuh ada kastengel, mau buka puasa syawal gak, tepat banget tuh udah azan zuhur..' tanya Ibuku.
Aku agak galau, namun sdikit lebih banyak cenderung untuk membatalkan puasaku. Sambil kumengambil toples itu dalam hati aku meminta maaf pada Allah ''y Allah maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk mempermainkan-Mu, aku hanya tidak ingin ibadahku ternoda oleh keraguanku,aku ingin puasaku sempurna, sdalam dan setulus hatiku aku memohon pada-Mu ya Ghoffar, aku malu pada-Mu, aku malu imanku masih setipis dan serapuh ini,''
sambil kupejamkan mata kumasukan kastengel itu ke mulutku, dan batallah puasa syawalku.
Ibukku sangat tahu sesungguhnya aku juga menyesal setelah membatatkannya, dan beliau meyakinkanku bahwa ini wajar. Namun tetap kata kata Ibuk yang sangat memotivasiku agar aku bangkit dari keterpurukan karena kegagalanku berpuasa tak mampu menghalau hatiku untuk sangat menyesali perbuatanku.
Aku masih tetap kecewa pada diriku sendiri. Kenapa tadi aku makan kastengelnya. Ahh terlanjur, tahun depan aku harus benar2 bisa.
Tuhan beri aku kesempatan kedua, maafkan aku telah mengecewakanmu, sungguh aku malu pada-Mu ya Rabb.
Aku semakin malu saat Bapak mendapatiku sedang memakan kastengel, padahal baru saja beliau mengetahui aku berpuasa.
'lho kok???'
'iya Pak,aku membatalkannya'sambil menundukkan kepala kumenjawab dengan penuh malu.
Dan akhirnya aku keluar dari ruangan itu. Entah Ibuk berbisik apa pada Bapak. Biasanya bila aku gagal dalam segala sesuatu pasti Bapak menertawaknku dan meledekku habis2an, tapi saat aku gagal di ujian ini beliau diam saja.
Akhirnya untuk menenangkan hatiku, aku mendirikan shalat taubat dan memohon ampun pada-Nya ats kegagalanku. Setalah itu hatiku agak tenang.........
^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan tinggalkan komentar Anda,, ^_^ mksh