Ketika aku memutuskan untuk menyayangi seseorang, maka ketika itu pula aku harus siap sakit karenanya. Tidak selalu karena sikap dari orang yang kita sayang, namun ketika ada perjumpaan pasti akan ada perpisahan. Disitulah momen dari sebuah silaturahmi yang aku sendiri kurang bisa menerima. Bukan bermaksud tidak menerima takdir, namun hati yang bicara. Seakan separuh dari diri ini hilang, pergi, meski silaturahmi itu tetap ada.
Ketika aku menyayangi seseorang, aku tak bisa menyayanginya dengan biasa, dia atau mereka akan menjadi sosok yang istimewa di hati. Aku siap melakukan apa yang membuatnya bahagia. Namun aku tidak bisa berjanji untuk selalu ada. Tak bisa dipungkiri, aku juga punya keluarga, punya organisasi, punya tanggung jawab lain yang mungkin pada saat tertentu akan menjadi ptioritas utama.
Ketika aku menyayangi seseorang, maka hal yang paling aku takutkan adalah membuatnya kecewa, menangis, bahkan marah. Aku tipe orang yang tidak bisa tinggal diam ketika orang yang biasanya selalu bersama, selalu menjadi teman bicara, selalu dekat, kemana-mana bersama, (teman dekat/orang penting dalam hidup) tiba-tiba dingin kepadaku. Aku orang yang sangat perasa dan pemikir dalam menjalin sebuah hubungan (pertemanan). Ketika dia diam atau bersikap dingin, mungkin pada saat aku saling berhadapan aku akan sama-sama dingin, bukan karena aku marah, tapi karena aku merasa ketika itu apa pun yang aku lakukan aku berpikiran bahwa aku serba salah dalam benaknya, itu hanya pemikiranku, untuk faktanya aku juga kurang paham. Namun ketika aku sudah di tempat berbeda maka aku tidak akan pernah berhenti mencari-cari apa saja yang sudah kulakukan, kesalahan apa yang aku lakukan, yang terkadang sifatku sebagai manusia berpikiran bahwa aku tidak memiliki kesalahan. (terkadang ya) Pada kondisi dimana aku memang tidak ada yang salah dari diriku maka aku tidak akan pernah berhenti menanyakan kepada yang bersangkutan, bahkan sampai pernah ada yang semakin marah karena aku terlalu banyak bertanya. Sungguh pada saat yang demikian aku benar-benar takut untuk kehilangan seseorang yang penting dalam hidupku.
Ketika seorang mendiamkanku, atau bersikap dingin, maka ketika itulah tenagaku dan pikiranku akan terkuras untuk memikirkan orang tersebut. Sungguh ketika aku menyayangi seseorang aku tidak akan pernah tega untuk menyakitinya. Kecewa adalah saat dimana ketika aku mengecewakanmu teman. Sedih adalah saat kamu butuh aku, dan di saat itu aku tak mampu berbuat apapun atas apa yang kamu rasakan. Marah adalah ketika ada seseorang yang dengan sengaja menyakitimu. Sayang adalah ketika aku berani mengingatkanmu saat kamu ada pada posisi yang salah. Bahagia adalah ketika kamu mau dan berani menasihatiku, mengingatkanku dalam kebaikan.
Jujur ketika aku menuliskan ini, aku sedang berada pada kondisi dimana aku memutuskan untuk mulai menyayangi beberapa orang. Yang mereka benar-benar mulai menjadi orang penting dalam hidupku. Tadinya aku takut untuk memutuskan ini, karena aku takut mereka tidak menerima kehadiranku. Bukan apa-apa, aku merasa bisa dekat dengan semua teman-temanku, tapi tak pernah bisa merasa memliki mereka karena mereka punya dunia dan cerita sendiri dalam kelompoknya. Selama ini aku seakan hinggap dimana saja di tempat yang aku inginkan. Iya memang aku bisa tertawa di kelompok sana, kelompok sini, tapi terkadang ketika aku berjalan sendiri dan melihat mereka yang saling bergerombol dengan kelompoknya saat itu lah aku merasa sendirian. Aku hanya bisa bertanya dalam hati, dimana kelompokku sebenarnya, dimana cerita persahabatan yang akan aku bangun sesungguhnya, dimana sebenarnnya aku dibutuhkan? dimana? Aku tidak pernah bisa menjawabnya. Karena saat itu aku hanya punya satu sahabat, namun dia tidak berada satu kampus denganku meski masih dalam satu fakultas.
Saat ini aku berada di antara "mereka", entah aku tak tahu apakah mereka merasakan kebahagiaan yang aku rasakan ketika aku berada di sisi mereka atau tidak. Aku juga tidak berani memastikan mereka menerimaku dan menganggapku seperti aku menganggap mereka atau tidak. Namun ketika aku tidak bersama mereka , aku benar-benar merasa aneh dan ada sesuatu yang kurang. Dan aku mulai menyadari bahwa aku benar-benar berharap mereka merasakan hal yang sama. Aku menyayangi mereka seperti aku menyayangi sahabatku, dan sahabatku kusayangi seperti adik/kakakku sendiri. It means that they have really stollen my mind, my attention.. And I'm happy being a lil part of them. No matter they have the same feeling or not at all, I'm still happy..
Surakarta, 27 November 2013
Sofia Paramita
Kamis, 28 November 2013
Selasa, 05 November 2013
Malam ini, di sudut kamar berukuran 2,5 x 4 meter, di atas kasur berseprei hijau muda bermotif, dan ditemani hembusan putaran baling-baling mini blower silver di sampingku..
Oya, tak ada hujan malam ini, yang biasanya kunanti-nanti kehadirannya..
Suasana jadi lengang. Cengoh aku sendirian. Tak ada kawan untuk berbincang, untuk sekadar bertukar pikiran. Di hadapanku, dan yang sedang kusentuh ini sangat menggodaku untuk menulis. Entah aku juga tak paham apa yang sedang ingin kutuliskan. Kuikuti saja kemauan tanganku untuk menari-nari menghentak-hentakkan jari di atas tuch-tuch komputer jinjing pemberian Ayahku. Apapun huruf yang terpilih, nantinya akan membentuk sebuah kata. Dari satu kata bertambah menjadi dua kata, semakin bertambah lagi ketika jari-jariku sudah merasa cukup panas dan semakin bergerilya untuk merangkai kata-kata yang lebih banyak lagi. Dan setelah kuberhenti menuliskan kalimat ini, aku mulai memperhatikan lagi tulisanku. Ternyata sudah banyak kata yang tercipta. Namun aku masih tak paham juga dengan apa yang ingin kutuiliskan. Hmm, lanjut saja deh nulisnya, tangan ini sudah cukup panas ingin melanjutkan untuk menulis. Ya meskipun hati belum paham juga dengan apa yang sedang ingin ditulis si tangan. Nah sekarang dengan ketidakpahaman hati ini membuat otak menjadi berpikir untuk menghentikan tangan dan jari-jari dari tindakan menulis tulisan yang belum jelas tujuannya ini. Terhenti sejenak. Dan mulai berpikir lagi (sambil menuliskan hal ini) mungkinkah aku akan melanjutkan sesuatu yang belum jelas ini? Dan semakin tidak jelas lagi arah dari tulisan ini. Baiklah kuhentikan saja, sebelum akhirnya nanti aku menyadari bahwa tulisan ini benar-benar tidak berarti dan tidak penting. Hahaha.. :D
Mungkin kalian rasa tulisan di atas tidak perlu dibaca, karena inti dari hal yang ingin saya sampaikan bukan omong kosong di atas. Mungkin lho ya. Jadi, coba di baca ulang kalimat panjang lebar di atas. Ehh jangan ding, terlalu panjang. Baik, kini saya tidak akan bertele-tele lagi. Lewat tulisan ini saya hanya ingin menganalogikan tentang terbentuknya tulisan ini dan niatan untuk pacaran. Hahaha absurd ya?? Iya emang gini nih kalau jomblo.. ehh *gak ada hubungannya..*
Teman-teman sadar ndak? bahwa tadinya saya tidak paham ingin menuliskan apa. Tapi saya tetap melanjutkan menulis tanpa mengerti maksud dari tujuan saya menulis ini. Dan akhirnya saya ragu untuk melanjutkan menulis. Lalu terhenti sejenak, dan berpikir lagi mungkinkah saya akan melanjutkan menulis tanpa saya paham maksud dan tujuan saya menulis, baiklah saya hentikan saja sebelum akhirnya saya menyadari bahwa tulisan ini benar-benar tidak berarti dan tidak penting.
Ternyata ketika saya berhenti menulis, ada suatu hikmah yang saya ambil. Tiba-tiba ada satu pemikiran yang tiba-tiba masuk di sela-sela ke-absurd-an. Keinginan saya menulis ini saya analogikan dengan keinginan saya untuk pacaran waktu itu (sekarang alhamdulillah udh nggak minat). Terkadang ketika melihat teman kita sungguh bahagia dengan status mereka. Kebersamaan mereka, dibanding dengan kesendirian kita, sungguh miris hati ini (sambil istigfar). Ada yang ngingetin shalat, ada yang ngingetin makan, ada yang ngingetin buat melakukan hal-hal kecil. Perhatian gitu deh.
Saya yang jomblo makan di burjo sendirian, ehh di sebrang jalan ga sengaja liat orang yang pacaran berduaan sambil suap-suapan di mewahnya restoran (padahal belum ijabsah), ehm yg di burjo cuma bisa melongo sambil ngomong "owalah mblo, mblo.." *ngelus dada*. Hahaha ironis memang :p
Semua itu membuat hati iri, ingin punya pacar, ingin mengelak dari aturan dan kebenaran. Nggakpapa lah kalau punya cita2 buat pacaran, kan kalau pacaran nggak akan "ngapa-ngapain". Pacaran kan bisa jadi motivasi. (nah ini nih yg namanya bisikan syaitan, bikin manusia jadi pinter mendadak, pinter banget deh bikin orang jadi maksiat, pinter buat bikin alasan untuk membenarkan yang benar-benar salah).
Allah mendatangkan hidayah dari mana saja sesuai kehendak-Nya, begitupun ketika Dia membuat hamba-Nya yang dhaif (sy) tersadar bahwa ternyata benar Saya tidak paham dengan keinginan untuk pacaran. Saya tidak paham apa sebenarnya hakikat serta esensi pacaran yang sesungguhnya. Allah mengizinkan hati kecil saya untuk mengetuk pintu logika, mengetuk lagi nurani saya. Membuat otak saya berpikir lagi, sebenarnya apa sih tujuan orang2 melakukan tindakan pacaran, ehm kok tindakan sih, itu status ding ya. Ah nggak penting lah itu status atau apa lah saya tak paham. Jelasnya saya nggak paham dengan pelaku pacaran yang bilang kalau pacaran itu adalah penjajakan pra nikah. Kalau emang yakin pacarnya itu jodohnya kenapa nggak langsung nikah aja, buat ngindarin maksiat, buat menghalalkan yang haram
Banyak yang bilang kalau pacaran itu penjajakan pra nikah. Tapi coba bayangkan kalau anak SD atau SMP atau SMA yang pacaran, ya kalii mereka mau nikah di masa labil gitu. Hahaha, baiklah, bukan anak SD, SMP, dan SMA yang ingin saya bicarakan.
Hmm baiklah intinya, sekarang sy paham bahwa pacaran bukanlah hal yang baik, menabung dosa, menjauhkan kita dari surga. Harapan sy dengan adanya blog ini, dia gak hanya menikmati keindahannya saja (meskipun nggak ada yg indah dr blog sy), tp ada ilmu yang ia ambil, meski hanya sedikit.
Tadinya sy benar2 bingung mau menuliskan apa, tapi ya sudahlah. Intinya lagi, jika memang kamu sudah siap, menikahlah.. Jangan pacaran. Jika memang belum siap, nggak usah pacaran.
Oya, tak ada hujan malam ini, yang biasanya kunanti-nanti kehadirannya..
Suasana jadi lengang. Cengoh aku sendirian. Tak ada kawan untuk berbincang, untuk sekadar bertukar pikiran. Di hadapanku, dan yang sedang kusentuh ini sangat menggodaku untuk menulis. Entah aku juga tak paham apa yang sedang ingin kutuliskan. Kuikuti saja kemauan tanganku untuk menari-nari menghentak-hentakkan jari di atas tuch-tuch komputer jinjing pemberian Ayahku. Apapun huruf yang terpilih, nantinya akan membentuk sebuah kata. Dari satu kata bertambah menjadi dua kata, semakin bertambah lagi ketika jari-jariku sudah merasa cukup panas dan semakin bergerilya untuk merangkai kata-kata yang lebih banyak lagi. Dan setelah kuberhenti menuliskan kalimat ini, aku mulai memperhatikan lagi tulisanku. Ternyata sudah banyak kata yang tercipta. Namun aku masih tak paham juga dengan apa yang ingin kutuiliskan. Hmm, lanjut saja deh nulisnya, tangan ini sudah cukup panas ingin melanjutkan untuk menulis. Ya meskipun hati belum paham juga dengan apa yang sedang ingin ditulis si tangan. Nah sekarang dengan ketidakpahaman hati ini membuat otak menjadi berpikir untuk menghentikan tangan dan jari-jari dari tindakan menulis tulisan yang belum jelas tujuannya ini. Terhenti sejenak. Dan mulai berpikir lagi (sambil menuliskan hal ini) mungkinkah aku akan melanjutkan sesuatu yang belum jelas ini? Dan semakin tidak jelas lagi arah dari tulisan ini. Baiklah kuhentikan saja, sebelum akhirnya nanti aku menyadari bahwa tulisan ini benar-benar tidak berarti dan tidak penting. Hahaha.. :D
Mungkin kalian rasa tulisan di atas tidak perlu dibaca, karena inti dari hal yang ingin saya sampaikan bukan omong kosong di atas. Mungkin lho ya. Jadi, coba di baca ulang kalimat panjang lebar di atas. Ehh jangan ding, terlalu panjang. Baik, kini saya tidak akan bertele-tele lagi. Lewat tulisan ini saya hanya ingin menganalogikan tentang terbentuknya tulisan ini dan niatan untuk pacaran. Hahaha absurd ya?? Iya emang gini nih kalau jomblo.. ehh *gak ada hubungannya..*
Teman-teman sadar ndak? bahwa tadinya saya tidak paham ingin menuliskan apa. Tapi saya tetap melanjutkan menulis tanpa mengerti maksud dari tujuan saya menulis ini. Dan akhirnya saya ragu untuk melanjutkan menulis. Lalu terhenti sejenak, dan berpikir lagi mungkinkah saya akan melanjutkan menulis tanpa saya paham maksud dan tujuan saya menulis, baiklah saya hentikan saja sebelum akhirnya saya menyadari bahwa tulisan ini benar-benar tidak berarti dan tidak penting.
Ternyata ketika saya berhenti menulis, ada suatu hikmah yang saya ambil. Tiba-tiba ada satu pemikiran yang tiba-tiba masuk di sela-sela ke-absurd-an. Keinginan saya menulis ini saya analogikan dengan keinginan saya untuk pacaran waktu itu (sekarang alhamdulillah udh nggak minat). Terkadang ketika melihat teman kita sungguh bahagia dengan status mereka. Kebersamaan mereka, dibanding dengan kesendirian kita, sungguh miris hati ini (sambil istigfar). Ada yang ngingetin shalat, ada yang ngingetin makan, ada yang ngingetin buat melakukan hal-hal kecil. Perhatian gitu deh.
Saya yang jomblo makan di burjo sendirian, ehh di sebrang jalan ga sengaja liat orang yang pacaran berduaan sambil suap-suapan di mewahnya restoran (padahal belum ijabsah), ehm yg di burjo cuma bisa melongo sambil ngomong "owalah mblo, mblo.." *ngelus dada*. Hahaha ironis memang :p
Semua itu membuat hati iri, ingin punya pacar, ingin mengelak dari aturan dan kebenaran. Nggakpapa lah kalau punya cita2 buat pacaran, kan kalau pacaran nggak akan "ngapa-ngapain". Pacaran kan bisa jadi motivasi. (nah ini nih yg namanya bisikan syaitan, bikin manusia jadi pinter mendadak, pinter banget deh bikin orang jadi maksiat, pinter buat bikin alasan untuk membenarkan yang benar-benar salah).
Allah mendatangkan hidayah dari mana saja sesuai kehendak-Nya, begitupun ketika Dia membuat hamba-Nya yang dhaif (sy) tersadar bahwa ternyata benar Saya tidak paham dengan keinginan untuk pacaran. Saya tidak paham apa sebenarnya hakikat serta esensi pacaran yang sesungguhnya. Allah mengizinkan hati kecil saya untuk mengetuk pintu logika, mengetuk lagi nurani saya. Membuat otak saya berpikir lagi, sebenarnya apa sih tujuan orang2 melakukan tindakan pacaran, ehm kok tindakan sih, itu status ding ya. Ah nggak penting lah itu status atau apa lah saya tak paham. Jelasnya saya nggak paham dengan pelaku pacaran yang bilang kalau pacaran itu adalah penjajakan pra nikah. Kalau emang yakin pacarnya itu jodohnya kenapa nggak langsung nikah aja, buat ngindarin maksiat, buat menghalalkan yang haram
Banyak yang bilang kalau pacaran itu penjajakan pra nikah. Tapi coba bayangkan kalau anak SD atau SMP atau SMA yang pacaran, ya kalii mereka mau nikah di masa labil gitu. Hahaha, baiklah, bukan anak SD, SMP, dan SMA yang ingin saya bicarakan.
Hmm baiklah intinya, sekarang sy paham bahwa pacaran bukanlah hal yang baik, menabung dosa, menjauhkan kita dari surga. Harapan sy dengan adanya blog ini, dia gak hanya menikmati keindahannya saja (meskipun nggak ada yg indah dr blog sy), tp ada ilmu yang ia ambil, meski hanya sedikit.
Tadinya sy benar2 bingung mau menuliskan apa, tapi ya sudahlah. Intinya lagi, jika memang kamu sudah siap, menikahlah.. Jangan pacaran. Jika memang belum siap, nggak usah pacaran.
Rasa
Lihatlah mentari yang tegas memancarkan cahaya keindahan
Kepatuhannya pada Illahi membuat ia tak pernah enggan untuk terbit
dan tetap rela terbenam,
Rasakanlah desahan angin,
semilir berhembus entah dari arah mana ia ditiupkan, menyejukkan..
Tataplah mega-mega di penghujung siang, di batas senja
Jingga-jingga indah memesona
Sorot sinar-sinar mentari yang hampir lenyap
Semilir angin sore sejuk menerpa lembut wajah ini
Membisikkan sebuah nyanyian
Mengalunkan sebuah harmoni,
Mengantarkan jiwa ini kembali pada sunyinya kerinduan
Tataplah eloknya rembulan,
yang hanya ada satu namun berkawan bintang gemintang
rela gantikan sang mentari yang telah terbenam lenyap ditelan gelap
Lihatlah bintang gemintang, yang tampak kecil-kecil dari kejauhan,
namun kerlap-kerlipnya menentramkan..
Malam ini tak lagi gulita..
Sejak rindu ini dibalas rindu..
Sejak pilu ini tak lagi sendu..
Sejak embun kembali menetes syahdu..
Sejak hujan menghapuskan jejak luka yang berpijak..
Sejak pelangi itu tersenyum,
Menggantikan jiwa yang mendung..
Kepatuhannya pada Illahi membuat ia tak pernah enggan untuk terbit
dan tetap rela terbenam,
Rasakanlah desahan angin,
semilir berhembus entah dari arah mana ia ditiupkan, menyejukkan..
Tataplah mega-mega di penghujung siang, di batas senja
Jingga-jingga indah memesona
Sorot sinar-sinar mentari yang hampir lenyap
Semilir angin sore sejuk menerpa lembut wajah ini
Membisikkan sebuah nyanyian
Mengalunkan sebuah harmoni,
Mengantarkan jiwa ini kembali pada sunyinya kerinduan
Tataplah eloknya rembulan,
yang hanya ada satu namun berkawan bintang gemintang
rela gantikan sang mentari yang telah terbenam lenyap ditelan gelap
Lihatlah bintang gemintang, yang tampak kecil-kecil dari kejauhan,
namun kerlap-kerlipnya menentramkan..
Malam ini tak lagi gulita..
Sejak rindu ini dibalas rindu..
Sejak pilu ini tak lagi sendu..
Sejak embun kembali menetes syahdu..
Sejak hujan menghapuskan jejak luka yang berpijak..
Sejak pelangi itu tersenyum,
Menggantikan jiwa yang mendung..
Kamis, 30 Mei 2013
PESAN SANG HUJAN (untuk diriku sendiri)
Terkadang
hujan melambangkan kepedihan, namun tak jarang hati yang kesepian akan
merindukan hujan, hujan bak simbol kebahagiaan, layaknya ia mencari kawan, yang
tak kunjung hadir menghapus pilunya kesendirian..
Rintik
hujan yang membuncah bagai sebuah harmoni yg melukiskan kebahagiaan, bukan lagi
lambang kesedihan, namun ingatlah ini hanya berlaku bagi sebahagian orang..
Harmoni-harmoni
yang tercipta menyusup ke telinga seakan membisikkan sebuah pesan,
"Kau
tak lagi sendiri,
Tuhan
mengizinkan aku turun lagi,
untuk
membuatmu tak lagi sepi, sayang..
mengertilah
Tuhan tak kan membiarkanmu merasa sendirian,
pahamilah
dunia ini terlalu luas bila kau terus-terusan meratapi kepedihan ini sendirian..
Ini
hanyalah sebuah paradoks kehidupan,
jangan
sampai kau terlalu bebal untuk memahami indahnya hidup ini,
kau
terlalu fokus dengan kesendirianmu,
kau
pun layaknya siput yang terlalu membatasi diri,
ketika
kau tersentuh kau pilih mengurung diri...
Aku
ini hanyalah hujan,
tak
patut kau jadikan kawan,
bukalah
matamu, lihatlah di luar sana banyak orang menanti kehadiranmu,
kau
yang Tuhan tunjuk untuk menyampaikan sebuah pesan yg Dia titipkan lewatku,
bahwa
jangan terlalu naif,
jangan
terlalu sombong untuk mensyukuri nikmat-Ku...
Aku
tidak menciptakanmu sendirian,
Aku
menciptakan banyak makhluk di muka bumi ini,
bukan
untuk saling menyendiri,
tidakkah
Engkau paham dengan ayat-ayat cinta-Ku?
Jangan
terlalu angkuh, rendahkanlah hatimu,
sapalah
siapa saja yang engkau mau,
sayangilah
siapa saja yang kau inginkan, tidakkah itu mudah?
Jangan
kau terlalu mempersulit dirimu sendiri untuk memahami maksud hidup ini..
Pahamilah
siapa saja yg kau inginkan tuk kau jadikan kawan, bila kau ingin dipahami..
Cintailah
siapa saja yg kau inginkan tuk kau jadikan kawan, bila kau ingin dicintai...
Temanilah
kawanmu yang kesepian, bila kau tak ingin merasa sendiri...
Jangan
terlalu memikirkan apa yang akan mereka berikan padamu,
setelah
kau relakan hati, pikiran, dan kasihmu untuk kau hadiahkan pada mereka...
Pikirkanlah
selalu bagaimana kau bisa menebarkan manfaat bagi mereka..
Jadilah
Agen Tuhan yang menebarkan ilmu, bahwa untuk mendapatkan apa yang kau inginkan,
maka berikanlah apa yang kau punya pada orang yang lebih membutuhkan..
seperti
'teman'...
Bila
kau menginginkan teman yang mengerti, maka jadilah teman yang mampu mengerti,
maka cepat atau lambat, Tuhan akan membalasmu.."
Hujan
yang telah Tuhan tumpahkan ke muka bumi ini, berharap kau yang selalu merasa
sendiri paham akan indahnya kebersamaan..
Boleh
saja kau merindukan hujan, namun hujan mengharapkanmu menikmatinya dengan kawan
barumu..
Hujan
sangat ingin melihat kau bermain2 dengannya bersama kawanmu..
Setidaknya
kau tahu, hujan rela menemanimu selama kau merasa sendirian, namun sudikah kau
penuhi harapan sang hujan, agar ketika hujan datang kembali, kau sudah tak
sendiri lagi...
Salam
hangat untuk semua sahabatku, dimana pun kalian berada
Dalam
kondisi apa pun kalian,
Aku
hanya ingin bilang
Hidupku
terasa sia-sia bila kuhabiskan waktuku sendirian
Tanpa
kalian, sayang.. :’)
Surakarta,
29 Mei 2013
~Sofi~
Selasa, 21 Mei 2013
Marah
Marah.. Aku kadang tak sadar kapan aku marah. Aku sendiri tak terlalu paham dengan marah.
Yang aku tahu, aku pernah marah. Mungkin sering sih. Yah wajar sih aku kan manusia juga, punya hati juga.
Tapi entah kenapa dengan orang-orang tertentu aku tidak bisa marah. ehh bukan bukan bukan.
Bukan tidak bisa marah, aku bisa marah, tapi wahai kalian orang2 "tertentu" aku terkadang takut untuk marah.
Mungkin kalian tidak akan pernah tahu kapan sebenarnya aku benar-benar sedang marah dengan kalian. Aku ini memang orangnya masih labil. Sering kali aku mengurungkan niatku untuk marah, karena aku takut marahku akan berbuah buruk, apalagi harus kehilangan.
Aiih tak ingin, sungguh tak ingin kehilangan.Seringnya kalau aku marah aku malah akan berubah menjadi orang yang bersikap paling manis terhadap kalian.
Atau bisa juga aku akan berubah menjadi pendiam, dan dalam diam itu aku benar2 berpikir keras, apakah keputusanku untuk marah itu sudah benar? nah muncul lagi bisikan dari hati kecil untuk tidak jadi marah. Kadang aku juga bingung dengan kepribadianku yang aneh ini.
Aku bingung kapan aku harus memutuskan untuk marah. Saat ingin marah aku kadang berpikir, "apakah marah ini berguna dan penting?" kalau nggak ya "kayaknya ini masalah kecil, kenapa harus marah? yaudah deh gak jadi aja marahnya" masih banyak lagi pikiran2 yang muncul saat aku ingin marah.
Ehm, misalnya dengan berpikiran positif terhadap orang yang bersangkutan, kadang di hati kita muncul pikiran negatif tentang orang lain hanya karena ilusi mata kita, yg lebih mementingkan apa yg terlihat tanpa memahami yang tak terlihat. Kita tidak pernah tahu hal2 yang tersembunyi, kita tidak sepenuhnya bisa melihat yang sebenarnya, karena sering kali pikiran negatif kita lebih kuat dan akan menguasai emosi kita. Marah itu nafsu. Seringnya habis marah kita akan menyesal, kenapa tadi aku harus marah, kenapa kenapa dan.. bla...bla..blaa... Itulah yang kadang membuat aku memilih menyembunyikan kemarahan, dengan diam, dengan bersikap manis, atau yahh pura-pura bersikap biasa saja, atau kalau nggak ya bercanda dan pura2nya mutung. Kalian tidak akan pernah benar2 tahu kapan aku benar2 marah. Mungkin saat bersikap manis, sebenarnya aku sedang menutupi kemarahanku. Atau mungkin saat aku tertawa di hadapanmu sebenarnya tawa itu hanya sebagai penutup luka, ahahaha sok banget aku ya.. Yahh tapi bagaimana lagi, memang begitu adanya.
Rasa sayangku lebih bisa mengendalikan amarahku pada kalian.
Aku hanya takut untuk kehilangan rasa sayang kalian, hanya karena marah yang tidak berguna..
Seringkali melihat tawa kalian membuat hati yang marah menjadi luluh..
Kalaupun kalian menyadari aku sedang marah, jangan jadikan itu alasan untuk meninggalkanku ya..
Aku manusia, tidak sempurna..
Hidupku akan terasa sempurna dengan kehadiran kalian..
Yang aku tahu, aku pernah marah. Mungkin sering sih. Yah wajar sih aku kan manusia juga, punya hati juga.
Tapi entah kenapa dengan orang-orang tertentu aku tidak bisa marah. ehh bukan bukan bukan.
Bukan tidak bisa marah, aku bisa marah, tapi wahai kalian orang2 "tertentu" aku terkadang takut untuk marah.
Mungkin kalian tidak akan pernah tahu kapan sebenarnya aku benar-benar sedang marah dengan kalian. Aku ini memang orangnya masih labil. Sering kali aku mengurungkan niatku untuk marah, karena aku takut marahku akan berbuah buruk, apalagi harus kehilangan.
Aiih tak ingin, sungguh tak ingin kehilangan.Seringnya kalau aku marah aku malah akan berubah menjadi orang yang bersikap paling manis terhadap kalian.
Atau bisa juga aku akan berubah menjadi pendiam, dan dalam diam itu aku benar2 berpikir keras, apakah keputusanku untuk marah itu sudah benar? nah muncul lagi bisikan dari hati kecil untuk tidak jadi marah. Kadang aku juga bingung dengan kepribadianku yang aneh ini.
Aku bingung kapan aku harus memutuskan untuk marah. Saat ingin marah aku kadang berpikir, "apakah marah ini berguna dan penting?" kalau nggak ya "kayaknya ini masalah kecil, kenapa harus marah? yaudah deh gak jadi aja marahnya" masih banyak lagi pikiran2 yang muncul saat aku ingin marah.
Ehm, misalnya dengan berpikiran positif terhadap orang yang bersangkutan, kadang di hati kita muncul pikiran negatif tentang orang lain hanya karena ilusi mata kita, yg lebih mementingkan apa yg terlihat tanpa memahami yang tak terlihat. Kita tidak pernah tahu hal2 yang tersembunyi, kita tidak sepenuhnya bisa melihat yang sebenarnya, karena sering kali pikiran negatif kita lebih kuat dan akan menguasai emosi kita. Marah itu nafsu. Seringnya habis marah kita akan menyesal, kenapa tadi aku harus marah, kenapa kenapa dan.. bla...bla..blaa... Itulah yang kadang membuat aku memilih menyembunyikan kemarahan, dengan diam, dengan bersikap manis, atau yahh pura-pura bersikap biasa saja, atau kalau nggak ya bercanda dan pura2nya mutung. Kalian tidak akan pernah benar2 tahu kapan aku benar2 marah. Mungkin saat bersikap manis, sebenarnya aku sedang menutupi kemarahanku. Atau mungkin saat aku tertawa di hadapanmu sebenarnya tawa itu hanya sebagai penutup luka, ahahaha sok banget aku ya.. Yahh tapi bagaimana lagi, memang begitu adanya.
Rasa sayangku lebih bisa mengendalikan amarahku pada kalian.
Aku hanya takut untuk kehilangan rasa sayang kalian, hanya karena marah yang tidak berguna..
Seringkali melihat tawa kalian membuat hati yang marah menjadi luluh..
Kalaupun kalian menyadari aku sedang marah, jangan jadikan itu alasan untuk meninggalkanku ya..
Aku manusia, tidak sempurna..
Hidupku akan terasa sempurna dengan kehadiran kalian..
Senin, 20 Mei 2013
Sahabat
Teman itu layaknya amanah yang patut untuk dijaga
Iya kamu temanku,
Ehh bukan, bukan teman,
lebih tepatnya kamu adalah sahabatku, yang baru
Baru dikirimkan Tuhan untuk aku jaga
Idealnya begitu, aku menjagamu
Namun aku tak mampu berjanji menjagamu
Karena aku juga manusia
Dengan kecenderunganku ingin dijaga juga
Ingin dimengerti
Ingin dipahami dan ingin ingin yang lainnya
Itu hanya ingin
Kalaupun aku tak dapatkan yang aku inginkan
Tak kan jadi masalah
Yang terpenting yang aku inginkan bisa kulakukan untukmu
Aku tidak sempurna
Sama sepertimu
Ketidaksempurnaan itu yang kadang mendatangkan salah paham
Aku tidak pernah ingin menyalahkan
Karena kita sama-sama terlahir dengan ketidaksempurnaan
Kita hidup untuk selalu belajar, belajar dari kesalahan
Ataupun belajar memahami kebenaran
Aku harap kamu tidak lelah menghadapiku
Yang kekanakan
Yang tidak pernah bisa berbuat banyak saat kau butuh
Yang tak pernah bisa memberikan solusi di setiap masalahmu
Namun aku akan berusaha untuk sama2 menemukan solusinya
Masalah salah paham atau apa pun yang kadang datang
Biarlah tetap datang menerpa kita kawan
Tuhan mungkin sengaja mendatangkannya
untuk mendewasakan kita kawan,
Syukurilah karena Tuhan mengizinkan kita untuk tumbuh dewasa bersama,
Dengan kesempurnaan-Nya dan kasih-Nya
Dia datangkan badai di tengah kebersamaan kita
Mengizinkan kita untuk menikmati asam manis pahit getirnya pertemanan
Bagiku sedahsyat apa pun badai yang datang
Asal kau tetap ada denganku
Kan kuhadapi dengan tenang
:)
Iya kamu temanku,
Ehh bukan, bukan teman,
lebih tepatnya kamu adalah sahabatku, yang baru
Baru dikirimkan Tuhan untuk aku jaga
Idealnya begitu, aku menjagamu
Namun aku tak mampu berjanji menjagamu
Karena aku juga manusia
Dengan kecenderunganku ingin dijaga juga
Ingin dimengerti
Ingin dipahami dan ingin ingin yang lainnya
Itu hanya ingin
Kalaupun aku tak dapatkan yang aku inginkan
Tak kan jadi masalah
Yang terpenting yang aku inginkan bisa kulakukan untukmu
Aku tidak sempurna
Sama sepertimu
Ketidaksempurnaan itu yang kadang mendatangkan salah paham
Aku tidak pernah ingin menyalahkan
Karena kita sama-sama terlahir dengan ketidaksempurnaan
Kita hidup untuk selalu belajar, belajar dari kesalahan
Ataupun belajar memahami kebenaran
Aku harap kamu tidak lelah menghadapiku
Yang kekanakan
Yang tidak pernah bisa berbuat banyak saat kau butuh
Yang tak pernah bisa memberikan solusi di setiap masalahmu
Namun aku akan berusaha untuk sama2 menemukan solusinya
Masalah salah paham atau apa pun yang kadang datang
Biarlah tetap datang menerpa kita kawan
Tuhan mungkin sengaja mendatangkannya
untuk mendewasakan kita kawan,
Syukurilah karena Tuhan mengizinkan kita untuk tumbuh dewasa bersama,
Dengan kesempurnaan-Nya dan kasih-Nya
Dia datangkan badai di tengah kebersamaan kita
Mengizinkan kita untuk menikmati asam manis pahit getirnya pertemanan
Bagiku sedahsyat apa pun badai yang datang
Asal kau tetap ada denganku
Kan kuhadapi dengan tenang
:)
Senin, 06 Mei 2013
what a day
hari ini, hari yg paling memalukan sedunia..
cukup hari ini saja mempermalukan diri di hadapan orang banyak
ini demi siapa? demi mereka yang nggak tahu makna tanggung jawab dan komitmen??
yaah bisa dibilang begitu.. ~
cukup hari ini saja mempermalukan diri di hadapan orang banyak
ini demi siapa? demi mereka yang nggak tahu makna tanggung jawab dan komitmen??
yaah bisa dibilang begitu.. ~
Selasa, 23 April 2013
*tanpa judul*
Tidak masalah bila dulu ketika kita bersama aku mengalah
tidak masalah bila saat kita berdebat aku akan memilih diam
tidak masalah bila saat salah paham aku meminta maaf terlebih dahulu
tidak masalah bila ketika kita dipisahkan
dan mulai renggang jarak kita,
aku menyapamu terlebih dahulu
tidak masalah bila kau lupa untuk sekadar menanyakan kabarku,
tidak masalah bila kau terus menerus tidak menghargai pengorbananku,
baik dahulu maupun sekarang..
tidak masalah bila sedikitpun kau tak pernah memberiku celah untuk berbagi
sedikit saja aku ingin menceritakan apa yg selalu terpendam di hati,
kau pun tak pernah menyadari,
bahwa aku pernah membencimu karena egomu,
tp entah hati ini selalu luluh,
ketika kau berbagi segala keluhmu,
entah kau tahu atau tidak saat itu aku juga ingin sekadar berkeluh,
tp tetap saja kau tak pernah berikanku kesempatan..
aku hanya ingin bilang aku lelah,
lelah bila kau terus menerus seperti itu
aku juga butuh pundak,
terkadang bila kuingat perkataanmu waktu itu ("kamu dimana saat aku butuh?")
hati ini perih sekaliii,
kalimat itu tajam sekali menghunus jantungku,
begitu mudahnya kamu katakan itu,
di hadapanku,
dan kadang kau garami itu dengan sikapamu,
ketahuilah lukaku ini kadang masih terasa..
ahh sudahlah, aku hanya ingin kamu lebih menghargai orang lain
tak mengapa bila aku harus sakit, untuk membuatmu mengerti akan arti teman,
mengerti bagaimana indahnya berbagi...
semoga teman2 barumu lebih sabar menghadapimu,
dan aku harap temanmu tidak merasakan apa yg aku rasakan,
cukuplah aku sebagai mediamu dalam belajar..
aku masih tetap di sini, masih berusaha ada
untuk menunggu kamu
dan berjaga2, bila sewaktu2 teman2mu tak bisa menemanimu..
tidak masalah bila saat kita berdebat aku akan memilih diam
tidak masalah bila saat salah paham aku meminta maaf terlebih dahulu
tidak masalah bila ketika kita dipisahkan
dan mulai renggang jarak kita,
aku menyapamu terlebih dahulu
tidak masalah bila kau lupa untuk sekadar menanyakan kabarku,
tidak masalah bila kau terus menerus tidak menghargai pengorbananku,
baik dahulu maupun sekarang..
tidak masalah bila sedikitpun kau tak pernah memberiku celah untuk berbagi
sedikit saja aku ingin menceritakan apa yg selalu terpendam di hati,
kau pun tak pernah menyadari,
bahwa aku pernah membencimu karena egomu,
tp entah hati ini selalu luluh,
ketika kau berbagi segala keluhmu,
entah kau tahu atau tidak saat itu aku juga ingin sekadar berkeluh,
tp tetap saja kau tak pernah berikanku kesempatan..
aku hanya ingin bilang aku lelah,
lelah bila kau terus menerus seperti itu
aku juga butuh pundak,
terkadang bila kuingat perkataanmu waktu itu ("kamu dimana saat aku butuh?")
hati ini perih sekaliii,
kalimat itu tajam sekali menghunus jantungku,
begitu mudahnya kamu katakan itu,
di hadapanku,
dan kadang kau garami itu dengan sikapamu,
ketahuilah lukaku ini kadang masih terasa..
ahh sudahlah, aku hanya ingin kamu lebih menghargai orang lain
tak mengapa bila aku harus sakit, untuk membuatmu mengerti akan arti teman,
mengerti bagaimana indahnya berbagi...
semoga teman2 barumu lebih sabar menghadapimu,
dan aku harap temanmu tidak merasakan apa yg aku rasakan,
cukuplah aku sebagai mediamu dalam belajar..
aku masih tetap di sini, masih berusaha ada
untuk menunggu kamu
dan berjaga2, bila sewaktu2 teman2mu tak bisa menemanimu..
Teman Setiaku
Sesungguhnya temanku yang paling setia ialah kesendirian
Aku bingung sekali .. kenapa kamu setia sekali terhadapku,
enyah saja kau dari kehidupanku
tapi jangan pergi terlalu lama
kadang aku butuh kamu,
tapii,
errrh..
kamu sering datang tidak tepat waktu..!!
Aku bingung sekali .. kenapa kamu setia sekali terhadapku,
enyah saja kau dari kehidupanku
tapi jangan pergi terlalu lama
kadang aku butuh kamu,
tapii,
errrh..
kamu sering datang tidak tepat waktu..!!
Jumat, 01 Maret 2013
?????
^_^ menyebalkan adalah saat kita telah mengumpulkan keberanian untuk menyapanya, untuk mengungkapkan sesuatu yg telah kita susun dengan rapi, namun keberanian itu sirna seketika, ketika kita melihatnya dari kejauhan dan dia sdh menikmati suasana bahagia tanpa hadirnya kita.
ahahahaha...bukan dia yg salah, tp kita... apa coba salahnya???? jawab aja sendiri!
#abaikan postingan ini# ^^
ahahahaha...bukan dia yg salah, tp kita... apa coba salahnya???? jawab aja sendiri!
#abaikan postingan ini# ^^
Selasa, 26 Februari 2013
corat coret sesuka hati
^_^ kupu-kupu jangan pergiiiii...ahahahaha ini tadi malam bikinnya,bingung mau ngapain soalnya. mau belajar tp bingung nggak ada hand out dr dosen.. *alesan
Minggu, 24 Februari 2013
my sketchs
^_^ karena saya nggak pinter menulis, jadi yang saya tampilkan hasil corat coret tangan sy yang mungil ini yaaa...hehe
Rindu Sekali (Selamanya Rindu)
Rindu Rindu, hati ini bagai terikat dengan mereka..
segala tentang mereka aku selalu berusaha mengingatnya..
menyusun setiap keping memori
setiap detik bersama mereka
canda tawa tangis air mata bersama mereka adalah bahagia
mereka mereka, keluargaku
GEO #3 (GANESHA EVENT ORGANIZER)
Foto 1 : Studi banding bersama GEO#3 (OSIS dan MPK SMANSA) di URSULIN, Regina Pacis, Surakarta
Foto 2 : Jaga pendaftaran 3on3 Proker Subseksi KJDK, aku depan sendiri, dari sebelah kiri ada Vika(timbil), Wulan, Hardianti (adikku), Anis *kangen banget sama mereka* :)
Foto 3 : Itu foto waktu baksos, bulan Ramadhan, proker perdana setelah pelantikan, di Bruno.
Seneng banget, warganya antusias tinggi, liat tuh bazarnya rame banget, kita kualahan lho, saking banyakanya warga yang bersemangat..
Foto 4 : Itu kita di Benowo, pelantikan pengurus baru, pengganti kita..sedih udah mau purna. tapi seru, di sana dingiiiiin banget, liat aja tuh udah siang aja masih berkabut hihi di depan sendiri ada aku, Wulan, Riris.
Belakangku Irun, Elisa. Shinta, sama Vikki... really miss them.. :)
Sabtu, 23 Februari 2013
Aku = Kamu :')
semenjak ku belum mengenalmu
selama kau menemaniku dengan kepura-puraanmu
setelah aku terlalu lelah untuk bersabar dengan rasa sakit itu
hingga aku putuskan untuk tidak bersamamu
entah perasaanku masih saja sama padamu, seperti dulu
tak berubah meski waktu telah berlalu
sama sepertimu
dia selalu ada di pikiranmu
meski kau sedang bersamaku
sampai detik ini pun kau masih saja begitu
kau rela sakit untuknya
aku rela sakit untukmu
memikirkannya adalah keseharianmu
memikirkan kalian berdua selalu menyisakan pilu
tapi tak mampu sehari pun ku tak ingat tentangmu
bahkan tiga tahun berlalu dia masih menjadi prioritasmu
dan kau prioritasku
aku dan kamu sama2 menunggu
aku menunggumu dalam diamku
kau menunggunya dalam diammu
kau tulisakan puisi2 indah tentangnya
aku tuliskan segala ingatanku tentangmu
kau mencntainya,menjaganya,memeluknya dalam doamu
aku mencintaimu,menjagamu,memelukmu dalam doa2ku
menanti keputusan Tuhan siapa bidadarimu,
dia kah? atau siapapun itu
bila dia muslimah yang baik akan kurelakan kamu setulus hatiku
semua sakit dan pilu kurasa tak kan sia2 buatku
bila memang akhir ceritaku bukan denganmu
Tuhan lebih tahu siapa aku, siapa kamu
Tuhan lebih tahu siapa yang paling pantas untukku, dan untukmu
aku memang sama denganmu ya, semoga selalu bahagia ya kamu
kau jgn lelah bersabar menunggunya ya..
selama kau menemaniku dengan kepura-puraanmu
setelah aku terlalu lelah untuk bersabar dengan rasa sakit itu
hingga aku putuskan untuk tidak bersamamu
entah perasaanku masih saja sama padamu, seperti dulu
tak berubah meski waktu telah berlalu
sama sepertimu
dia selalu ada di pikiranmu
meski kau sedang bersamaku
sampai detik ini pun kau masih saja begitu
kau rela sakit untuknya
aku rela sakit untukmu
memikirkannya adalah keseharianmu
memikirkan kalian berdua selalu menyisakan pilu
tapi tak mampu sehari pun ku tak ingat tentangmu
bahkan tiga tahun berlalu dia masih menjadi prioritasmu
dan kau prioritasku
aku dan kamu sama2 menunggu
aku menunggumu dalam diamku
kau menunggunya dalam diammu
kau tulisakan puisi2 indah tentangnya
aku tuliskan segala ingatanku tentangmu
kau mencntainya,menjaganya,memeluknya dalam doamu
aku mencintaimu,menjagamu,memelukmu dalam doa2ku
menanti keputusan Tuhan siapa bidadarimu,
dia kah? atau siapapun itu
bila dia muslimah yang baik akan kurelakan kamu setulus hatiku
semua sakit dan pilu kurasa tak kan sia2 buatku
bila memang akhir ceritaku bukan denganmu
Tuhan lebih tahu siapa aku, siapa kamu
Tuhan lebih tahu siapa yang paling pantas untukku, dan untukmu
aku memang sama denganmu ya, semoga selalu bahagia ya kamu
kau jgn lelah bersabar menunggunya ya..
Jumat, 22 Februari 2013
Kamu
.....
Aku tak tahu harus memulainya dari mana
Pun ku tiada mengerti apa yang sedang terjadi antara kita
Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati, kurasa
Entah itu apa
Entah kau juga begitu ataukah biasa saja
Yang ingin kukatakan padamu hanyalah satu
Yaitu aku menyayangimu
Mohon maafkan hati ini yang terlalu dini merasa
Maafkan bila hati ini menyayangimu dengan cara yang berbeda
Maaf bila tak sama dengan yang kau harap
Atau mungkin kau tak pernah berharap ada rasa itu dariku
Tapi maaf aku tak peduli bila kau tak pernah mengharapakanku
Maaf untuk keegoisanku ini, untuk segala sikap dan sifat kekanakanku
yang buat kesal di hati dan hari-harimu
Terima kasih kau telah membuatku tersenyum di tengah berbagai kesedihanku
di tengah berbagi masalah yang menimpaku
dan maaf tak pernah kau kuberi tahu setiap masalahku
Entah kau menyadari atau tidak,
bahwa aku masih mampu menyisakan senyumku,
karena kehadiranmu yang menguatkanku, kawanku...
Aku tak tahu harus memulainya dari mana
Pun ku tiada mengerti apa yang sedang terjadi antara kita
Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati, kurasa
Entah itu apa
Entah kau juga begitu ataukah biasa saja
Yang ingin kukatakan padamu hanyalah satu
Yaitu aku menyayangimu
Mohon maafkan hati ini yang terlalu dini merasa
Maafkan bila hati ini menyayangimu dengan cara yang berbeda
Maaf bila tak sama dengan yang kau harap
Atau mungkin kau tak pernah berharap ada rasa itu dariku
Tapi maaf aku tak peduli bila kau tak pernah mengharapakanku
Maaf untuk keegoisanku ini, untuk segala sikap dan sifat kekanakanku
yang buat kesal di hati dan hari-harimu
Terima kasih kau telah membuatku tersenyum di tengah berbagai kesedihanku
di tengah berbagi masalah yang menimpaku
dan maaf tak pernah kau kuberi tahu setiap masalahku
Entah kau menyadari atau tidak,
bahwa aku masih mampu menyisakan senyumku,
karena kehadiranmu yang menguatkanku, kawanku...
Kamis, 21 Februari 2013
Berat Hati Saat Kembali
"Shalatnya jangan sampai bolong ya Nak, di sana", pesan yang dikatakan Ibukku saat aku sedang menyetrika kaos blaster warna biru abu-abu kesayanganku, sembari beliau menyiapkan sarapan untukku dan Ayah. Iya, pagi ini lah saatnya aku harus kembali ke Surakarta, untukku kembali mempelajari ilmu Kebidanan dan Ilmu tentang Kehidupan sebagai bekalku untuk menjadi seorang bidan yang akan mengabdikan diri pada negri suatu saat nanti. Aku siapkan segala hal yang kuperlukan pagi itu juga, yah sudah menjadi kebiasaan burukku. Yaitu malas untuk berkemas. Apalagi berkemas untuk pergi meninggalakan desaku yang penuh damai. Meninggalkannya dalam suasana liburku yang belum usai. Dari satu bulan masa liburku aku hanya mendapat kesempatan untuk menikmatinya tepat satu minggu. Kini aku harus pergi untuk kembali ke tanah perantauan untuk menunaikan janji yang sudah menjadi tanggung jawabku untuk kupenuhi. Janji itu sudah terpatri di hati sejak aku putuskan untuk aktif lagi berorganisasi. Dengan seragram korpri dibalut dengan jaket kulit hitam legam super tebal kesayangannya, Ayahku mengantarkanku ke stasiun Kutoarjo sekalian beliau berangkat untuk menunaikan ibadah sebagai seorang suami, yaitu mencari nafkah. Jarak stasiun dan kantor Ayah bisa diukur dengan jengkal, saking dekatnya. Entah kenapa selama perjalanan menuju stasiun aku teringat Ibukku, teringat sesuatu yang membuatku tak kuasa membendung air mata. Dari sudut mata kecilku menetes dan mengalir di pipi, sebelum sempat kuseka air mataku, ia hilang disambar angin yang berlawanan dengan arah sepeda motor yang dikendarai Ayahku. Entah begitu berat aku meninggalkan rumah pagi itu. berat sekali meninggalkan Ibuku, yang tak pernah mengeluh betapa berat segala masalah yang beliau hadapi. Andai aku ini pandai bercerita, akan kuceritakan sebagian kecil tentang perjalanan Ibuku menuju ke detik ini.
(Senin, 18-02-2013)
~Sofi~
Senin, 18 Februari 2013
LAGI
Kau terdiam (lagi)..
Aku tak tahu kau kenapa (lagi)..
Aku bingung (lagi)..
Aku khawatir (lagi)..
Aku bodoh (lagi), harusnya kutahu kau kenapa..
Aku harusnya tak takut (lagi) untuk sekadar menyapa..
Aku harusnya tahu kau kenapa..
Tapi bodohku tak kunjung hilang,
Lupaku selalu datang, tak (lagi) kuingat cara agar kau tak terdiam (lagi)..
Mungkin kadang kau terdiam bukan karena aku, namun harusnya kuberanikan diri untuk tahu..
Tapi bodohnya aku, aku selalu takut untuk mulai berbincang denganmu..
Kutakut melukai perasaanmu..
Kutakut kau kan menjauh dariku..
Tak kuasa butiran itu menetes dari ujung mataku,
Menggelinding melalui pipiku, ketika kau pintaku untuk lupa tentang perkenalan itu..
Harusnya kau tahu,
Mengenalmu adalah bagian indah dalam sejarah hidupku
Yang bila kubisa abadikan dengan sebuah lukisan, maka kan kulukiskan perkenalan itu pada secarik kanvas keabadian..
Namun belum pernah bisa kutemukan cara terindah agar kau tahu betapa berartinya kau buatku.. :)
Aku tak tahu kau kenapa (lagi)..
Aku bingung (lagi)..
Aku khawatir (lagi)..
Aku bodoh (lagi), harusnya kutahu kau kenapa..
Aku harusnya tak takut (lagi) untuk sekadar menyapa..
Aku harusnya tahu kau kenapa..
Tapi bodohku tak kunjung hilang,
Lupaku selalu datang, tak (lagi) kuingat cara agar kau tak terdiam (lagi)..
Mungkin kadang kau terdiam bukan karena aku, namun harusnya kuberanikan diri untuk tahu..
Tapi bodohnya aku, aku selalu takut untuk mulai berbincang denganmu..
Kutakut melukai perasaanmu..
Kutakut kau kan menjauh dariku..
Tak kuasa butiran itu menetes dari ujung mataku,
Menggelinding melalui pipiku, ketika kau pintaku untuk lupa tentang perkenalan itu..
Harusnya kau tahu,
Mengenalmu adalah bagian indah dalam sejarah hidupku
Yang bila kubisa abadikan dengan sebuah lukisan, maka kan kulukiskan perkenalan itu pada secarik kanvas keabadian..
Namun belum pernah bisa kutemukan cara terindah agar kau tahu betapa berartinya kau buatku.. :)
Minggu, 17 Februari 2013
Dingin Menusuk, Diam Merajuk
Kau tiba-tiba diam
Aku khawatir..
Aku takut, takut melukaimu hingga kau terdiam sperti ini..
Aku bingung..
Bingung untukku mulai percakapan..
Tak tahu kuharus berbuat apa..
Menatapmu saja aku tak kuasa..
Aku takut, bahkan untuk sekadar tersenyum padamu..
Matamu suram..
Entah terluka..
Entah bersedih..
Aku bahkan tak paham..
Errrrhha ku kesal padaku,
Yang tak tahu apa ini..
Yang tak paham dengan situasi ini..
Yang tak mampu mengerti..
Yang tak bisa membaca apa yang kau tuliskan dalam hati..
Aku seperti linglung, tak tahu apa yg sebenarnya terjadi..
Kutakut diam itu isyarat kau kan menjauh pergi..
Aku khawatir..
Aku takut, takut melukaimu hingga kau terdiam sperti ini..
Aku bingung..
Bingung untukku mulai percakapan..
Tak tahu kuharus berbuat apa..
Menatapmu saja aku tak kuasa..
Aku takut, bahkan untuk sekadar tersenyum padamu..
Matamu suram..
Entah terluka..
Entah bersedih..
Aku bahkan tak paham..
Errrrhha ku kesal padaku,
Yang tak tahu apa ini..
Yang tak paham dengan situasi ini..
Yang tak mampu mengerti..
Yang tak bisa membaca apa yang kau tuliskan dalam hati..
Aku seperti linglung, tak tahu apa yg sebenarnya terjadi..
Kutakut diam itu isyarat kau kan menjauh pergi..
TENTANGMU, KAWAN
Sekian lama aku berjumpa dengan berbagai macam teman..
Aku mengenal beribu karakter yang berbeda..
Dan kini Tuhan jumpakan aku denganmu, kawan..
Kau tak pernah pinta aku untuk datang,
untuk sekadar menulisakan "Sofia" di lembaran buku tamu kehidupanmu..
Maafkan aku atas kehadiranku yang tak diundang..
Maafkan aku untuk kehadiranku yang menimbulkan gelisah, resah, dan bingung, bahkan rasa tak nyaman..
Aku datang ingin mengenalkanmu tentang TEMAN yang bukan hanya sebuah ILUSI belaka..
Bahwa teman itu benar adanya, namun nyatanya ku membuatmu semakin kecewa..
membuatmu semakin percaya teman itu tak nyata..
Hatimu begitu lembut, bagai sutera..
Yang ingin kubelai setiap waktu, untuk rasakan kelembutannya..
Dan yang kutakut untuk mengusiknya..
Aku takut seamakin lama ku membelai sutera itu, akan membuat sutera itu jadi rusak
dan tak lembut lagi adanya..
Aku takut, aku takut, takut kehilangan kamu sesungguhnya..
Namun berlama-lama di sampingmu kurasa kau bosan denganku, kau jenuh dengan keluhku, kau tergannggu dengan segala sikapku..
Kuingin kau tetap berpijar layaknya bintang yg bergemerlapan di tengah gelapnya kesunyian..
Kuingin kau selalu tersenyum ditengah penantianmu untuk kehadiran seorang teman yang sebenarnya..
Aku mengenal beribu karakter yang berbeda..
Dan kini Tuhan jumpakan aku denganmu, kawan..
Kau tak pernah pinta aku untuk datang,
untuk sekadar menulisakan "Sofia" di lembaran buku tamu kehidupanmu..
Maafkan aku atas kehadiranku yang tak diundang..
Maafkan aku untuk kehadiranku yang menimbulkan gelisah, resah, dan bingung, bahkan rasa tak nyaman..
Aku datang ingin mengenalkanmu tentang TEMAN yang bukan hanya sebuah ILUSI belaka..
Bahwa teman itu benar adanya, namun nyatanya ku membuatmu semakin kecewa..
membuatmu semakin percaya teman itu tak nyata..
Hatimu begitu lembut, bagai sutera..
Yang ingin kubelai setiap waktu, untuk rasakan kelembutannya..
Dan yang kutakut untuk mengusiknya..
Aku takut seamakin lama ku membelai sutera itu, akan membuat sutera itu jadi rusak
dan tak lembut lagi adanya..
Aku takut, aku takut, takut kehilangan kamu sesungguhnya..
Namun berlama-lama di sampingmu kurasa kau bosan denganku, kau jenuh dengan keluhku, kau tergannggu dengan segala sikapku..
Kuingin kau tetap berpijar layaknya bintang yg bergemerlapan di tengah gelapnya kesunyian..
Kuingin kau selalu tersenyum ditengah penantianmu untuk kehadiran seorang teman yang sebenarnya..
Langganan:
Postingan (Atom)








