Malam ini, di sudut kamar berukuran 2,5 x 4 meter, di atas kasur berseprei hijau muda bermotif, dan ditemani hembusan putaran baling-baling mini blower silver di sampingku..
Oya, tak ada hujan malam ini, yang biasanya kunanti-nanti kehadirannya..
Suasana jadi lengang. Cengoh aku sendirian. Tak ada kawan untuk berbincang, untuk sekadar bertukar pikiran. Di hadapanku, dan yang sedang kusentuh ini sangat menggodaku untuk menulis. Entah aku juga tak paham apa yang sedang ingin kutuliskan. Kuikuti saja kemauan tanganku untuk menari-nari menghentak-hentakkan jari di atas tuch-tuch komputer jinjing pemberian Ayahku. Apapun huruf yang terpilih, nantinya akan membentuk sebuah kata. Dari satu kata bertambah menjadi dua kata, semakin bertambah lagi ketika jari-jariku sudah merasa cukup panas dan semakin bergerilya untuk merangkai kata-kata yang lebih banyak lagi. Dan setelah kuberhenti menuliskan kalimat ini, aku mulai memperhatikan lagi tulisanku. Ternyata sudah banyak kata yang tercipta. Namun aku masih tak paham juga dengan apa yang ingin kutuiliskan. Hmm, lanjut saja deh nulisnya, tangan ini sudah cukup panas ingin melanjutkan untuk menulis. Ya meskipun hati belum paham juga dengan apa yang sedang ingin ditulis si tangan. Nah sekarang dengan ketidakpahaman hati ini membuat otak menjadi berpikir untuk menghentikan tangan dan jari-jari dari tindakan menulis tulisan yang belum jelas tujuannya ini. Terhenti sejenak. Dan mulai berpikir lagi (sambil menuliskan hal ini) mungkinkah aku akan melanjutkan sesuatu yang belum jelas ini? Dan semakin tidak jelas lagi arah dari tulisan ini. Baiklah kuhentikan saja, sebelum akhirnya nanti aku menyadari bahwa tulisan ini benar-benar tidak berarti dan tidak penting. Hahaha.. :D
Mungkin kalian rasa tulisan di atas tidak perlu dibaca, karena inti dari hal yang ingin saya sampaikan bukan omong kosong di atas. Mungkin lho ya. Jadi, coba di baca ulang kalimat panjang lebar di atas. Ehh jangan ding, terlalu panjang. Baik, kini saya tidak akan bertele-tele lagi. Lewat tulisan ini saya hanya ingin menganalogikan tentang terbentuknya tulisan ini dan niatan untuk pacaran. Hahaha absurd ya?? Iya emang gini nih kalau jomblo.. ehh *gak ada hubungannya..*
Teman-teman sadar ndak? bahwa tadinya saya tidak paham ingin menuliskan apa. Tapi saya tetap melanjutkan menulis tanpa mengerti maksud dari tujuan saya menulis ini. Dan akhirnya saya ragu untuk melanjutkan menulis. Lalu terhenti sejenak, dan berpikir lagi mungkinkah saya akan melanjutkan menulis tanpa saya paham maksud dan tujuan saya menulis, baiklah saya hentikan saja sebelum akhirnya saya menyadari bahwa tulisan ini benar-benar tidak berarti dan tidak penting.
Ternyata ketika saya berhenti menulis, ada suatu hikmah yang saya ambil. Tiba-tiba ada satu pemikiran yang tiba-tiba masuk di sela-sela ke-absurd-an. Keinginan saya menulis ini saya analogikan dengan keinginan saya untuk pacaran waktu itu (sekarang alhamdulillah udh nggak minat). Terkadang ketika melihat teman kita sungguh bahagia dengan status mereka. Kebersamaan mereka, dibanding dengan kesendirian kita, sungguh miris hati ini (sambil istigfar). Ada yang ngingetin shalat, ada yang ngingetin makan, ada yang ngingetin buat melakukan hal-hal kecil. Perhatian gitu deh.
Saya yang jomblo makan di burjo sendirian, ehh di sebrang jalan ga sengaja liat orang yang pacaran berduaan sambil suap-suapan di mewahnya restoran (padahal belum ijabsah), ehm yg di burjo cuma bisa melongo sambil ngomong "owalah mblo, mblo.." *ngelus dada*. Hahaha ironis memang :p
Semua itu membuat hati iri, ingin punya pacar, ingin mengelak dari aturan dan kebenaran. Nggakpapa lah kalau punya cita2 buat pacaran, kan kalau pacaran nggak akan "ngapa-ngapain". Pacaran kan bisa jadi motivasi. (nah ini nih yg namanya bisikan syaitan, bikin manusia jadi pinter mendadak, pinter banget deh bikin orang jadi maksiat, pinter buat bikin alasan untuk membenarkan yang benar-benar salah).
Allah mendatangkan hidayah dari mana saja sesuai kehendak-Nya, begitupun ketika Dia membuat hamba-Nya yang dhaif (sy) tersadar bahwa ternyata benar Saya tidak paham dengan keinginan untuk pacaran. Saya tidak paham apa sebenarnya hakikat serta esensi pacaran yang sesungguhnya. Allah mengizinkan hati kecil saya untuk mengetuk pintu logika, mengetuk lagi nurani saya. Membuat otak saya berpikir lagi, sebenarnya apa sih tujuan orang2 melakukan tindakan pacaran, ehm kok tindakan sih, itu status ding ya. Ah nggak penting lah itu status atau apa lah saya tak paham. Jelasnya saya nggak paham dengan pelaku pacaran yang bilang kalau pacaran itu adalah penjajakan pra nikah. Kalau emang yakin pacarnya itu jodohnya kenapa nggak langsung nikah aja, buat ngindarin maksiat, buat menghalalkan yang haram
Banyak yang bilang kalau pacaran itu penjajakan pra nikah. Tapi coba bayangkan kalau anak SD atau SMP atau SMA yang pacaran, ya kalii mereka mau nikah di masa labil gitu. Hahaha, baiklah, bukan anak SD, SMP, dan SMA yang ingin saya bicarakan.
Hmm baiklah intinya, sekarang sy paham bahwa pacaran bukanlah hal yang baik, menabung dosa, menjauhkan kita dari surga. Harapan sy dengan adanya blog ini, dia gak hanya menikmati keindahannya saja (meskipun nggak ada yg indah dr blog sy), tp ada ilmu yang ia ambil, meski hanya sedikit.
Tadinya sy benar2 bingung mau menuliskan apa, tapi ya sudahlah. Intinya lagi, jika memang kamu sudah siap, menikahlah.. Jangan pacaran. Jika memang belum siap, nggak usah pacaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan tinggalkan komentar Anda,, ^_^ mksh