Kau terdiam (lagi)..
Aku tak tahu kau kenapa (lagi)..
Aku bingung (lagi)..
Aku khawatir (lagi)..
Aku bodoh (lagi), harusnya kutahu kau kenapa..
Aku harusnya tak takut (lagi) untuk sekadar menyapa..
Aku harusnya tahu kau kenapa..
Tapi bodohku tak kunjung hilang,
Lupaku selalu datang, tak (lagi) kuingat cara agar kau tak terdiam (lagi)..
Mungkin kadang kau terdiam bukan karena aku, namun harusnya kuberanikan diri untuk tahu..
Tapi bodohnya aku, aku selalu takut untuk mulai berbincang denganmu..
Kutakut melukai perasaanmu..
Kutakut kau kan menjauh dariku..
Tak kuasa butiran itu menetes dari ujung mataku,
Menggelinding melalui pipiku, ketika kau pintaku untuk lupa tentang perkenalan itu..
Harusnya kau tahu,
Mengenalmu adalah bagian indah dalam sejarah hidupku
Yang bila kubisa abadikan dengan sebuah lukisan, maka kan kulukiskan perkenalan itu pada secarik kanvas keabadian..
Namun belum pernah bisa kutemukan cara terindah agar kau tahu betapa berartinya kau buatku.. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan tinggalkan komentar Anda,, ^_^ mksh